Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 09 Sep 2019 15:50 WIB

Ekonomi Dunia Gonjang-ganjing, Indonesia Bagaimana?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Australia Plus ABC Foto: Australia Plus ABC
Jakarta - Perkembangan ekonomi dunia saat ini dinilai kurang memberikan support terhadap ekonomi nasional beberapa waktu terakhir. Hal ini karena lembaga internasional memperkirakan pertumbuhan tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

Direktur Keuangan PT Bank Mandiri Tbk Panji Irawan mengungkapkan, International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan tahun ini 3,2% atau lebih rendah dibandingkan perekonomian tahun lalu 3,6%. Kemudian prospek ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Panji menjelaskan perang dagang ini berdampak negatif terhadap ekonomi global karena menurunkan volume perdagangan dunia, sehingga bisa menekan pertumbuhan ekonomi global.

Dia menyebutkan, bagi Indonesia, perang dagang antara Amerika Serikat dan China telah berdampak negatif terhadap penurunan kinerja ekspor melalui penurunan harga-harga komoditas. Harga minyak Kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) terus tertekan ke tingkat harga sekitar US$ 500 per ton, padahal harga rata-rata 2017 sebesar US$ 648 per ton dan tahun lalu turun lagi menjadi US$ 556.



Panji menjelaskan yang sama juga terjadi pada harga batubara, menurutnya, komoditas ini terus menurun pada harga US$ 65 per ton. Padahal harga rata-rata pada 2017 di atas US$ 100 per ton dan tahun lalu sebesar US$ 88,3 per ton.

"Namun stabilitas ekonomi nasional masih terjaga, dengan pertumbuhan yang relatif masih lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara emerging market lainnya. Pada kuartal dua tahun ini, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,05% sementara pertumbuhan ekonomi kuartal satu tahun ini sebesar 5,07%," kata Panji dalam acara Media Gathering Macro Economic Outlook 2019 di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (9/9/2019).

Dia mengungkapkan, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal 1 dan 2 memang di bawah ekspektasi banyak pihak. Tapi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara emerging market lainnya.

"Turki pada kuartal 2 tahun 2019 mengalami pertumbuhan ekonomi negatif atau terkontraksi sebesar 1,5% (year on year), menyusul pertumbuhan ekonomi pada kuartal 1 tahun 2019 yang juga terkontraksi 2,4%," jelasnya.

Selain itu, beberapa negara berkembang lainnya pada saat yang bersamaan juga mencatatkan pertumbuhan yang lebih rendah dibandingkan Indonesia, antara lain Malaysia yang tumbuh 4,9%, Thailand 3,7%, Brazil 1,01% dan Rusia 0,9%.



Simak Video "Saldo Nasabah Mendadak Berubah, Bank Mandiri: Ada Eror di Sistem"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com