Dikepung Banjir Parah, Jakarta Terancam bakal Tenggelam

Soraya Novika - detikFinance
Minggu, 05 Jan 2020 20:17 WIB
Foto: Pradita Utama


Berkurang atau hilangnya daerah resapan air di suatu kawasan pada akhirnya memaksa air yang turun ke bumi untuk mencari daerah yang lebih rendah yang bisa dialiri air tersebut hingga mencapai hilirnya.

"Yang terjadi di Jakarta, 13 daerah aliran sungai (das)nya dikonversi guna lahan dengan sangat masif sekali dalam 50 tahun terakhir. Sehingga akan semakin banyak air limpasan dari 13 das itu masuk ke kawasan Ibu Kota. Ini kita bicara dalam keadaan hujan normal saja, belum hujan dalam keadaan ekstrim, otomatis apa yang terjadi, saluran atau kali yang ada tidak akan mampu menampung limpasan ini, karena jumlahnya masif kan," terangnya.

Ditambah lagi, saluran yang ada (13 das) semakin lama semakin menyempit akibat tumpukan sampah atau masifnya pertumbuhan bangunan di dekat sungai.

Selain itu, pertumbuhan populasi pun cukup berperan. Korelasinya yaitu dengan kebutuhan air yang semakin meningkat sehingga membuat entitas komersial seperti gedung perkantoran, apartemen, hotel, hingha mal mengambil air tanah dalam jumlah berlebihan namun tidak diisi kembali sebagaimana seharusnya.

"Ini yang memicu terjadi nya penurunan muka tanah di DKI Jakarta dengan kecepatan yang tinggi sekali. Rata-rata laju turun muka tanah kita sekarang ya 10 cm - 11 cm pert ahun," imbuhnya.

Turunnya muka tanah ini membuat cekungan baru lalu menimbulkan daerah genangan baru di Jakarta dan sekitarnya.

"Jadi kalau hujan, normal saja dia akan menggenang, apalagi deras," ujarnya.

Dalam waktu yang bersamaan, menurut Firdaus, permukaan air laut pun senantiasa mengalami kenaikan.

"Di laut itu terjadi kenaikan permukaan air laut dampak dari pemanasan global. Artinya ada ancaman permukaan tanah kita akan lebih rendah dari permukaan laut, itu yang bisa membuat Jakarta tenggelam," tutupnya.
Halaman

(zlf/zlf)