Buwas Curhat Bulog Kesulitan Dapat Pasokan Gula

Vadhia Lidyana - detikFinance
Selasa, 23 Jun 2020 15:16 WIB
Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengunjungi Gudang Bulog Gedebage, Bandung, Selasa (3/2). Buwas memastikan stok beras untuk Idul Fitri 2020 aman.
Foto: Wisma Putra
Jakarta -

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) membeberkan sulitnya memperoleh pasokan gula kristal putih (GKP) untuk operasi pasar. Apalagi ketika harga gula melonjak tinggi karena kelangkaan stok.

"Penyaluran GKP impor tahap pertama kita sudah selesai dan sudah diedarkan ke seluruh Indonesia. Sesuai janji saya gula itu Rp 12.500/kg dari Bulog kepada konsumen. Teman-teman bisa cek, bahkan di Wamena gula itu paling tinggi Rp 12.500. Yang lalu saya sudah komitmen ke Presiden, saya juga jual ke konsumen di beberapa daerah Rp 10.500/kg. Itu terbukti, tapi itu hanya sebentar karena kita punya barang sedikit," kata Buwas di kantornya, Jakarta, Selasa (23/6/2020).

Perlu diketahui, Bulog memang memperoleh kuota impor GKP sebanyak 50.000 ton yang disalurkan secara bertahap. Tahap pertama GKP dikirim ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara sebanyak 21.800 ton pada pada 5 Mei 2020 lalu, dan sisanya 28.200 ton dikirim ke Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya pada awal Juni lalu.

Meski begitu, menurut Buwas pihaknya kesulitan memperoleh kuota impor. Selain itu, ia menilai pasar gula ini masih didominasi pemasok swasta yang mengakibatkan harga tinggi ketika dibeli konsumen.

"Kita salurkan gula ke seluruh Indonesia dengan harga paling tinggi Rp 12.500/kg kepada konsumen. Karena Bulog keberpihakannya kepada konsumen. Memang belum ada keberpihakan pada Bulog, masih ada persaingan-persaingan dari swasta dan Bulog tidak dominan. Dan seharusnya sembilan bahan pokok (sembako) dikuasai oleh negara," jelas dia.



Menurut Buwas, GKP yang diimpor seharusnya sangatlah murah ketika dijual ke konsumen. Ia mengatakan, permainan para oknumlah yang menyebabkan harga melonjak hingga Rp 20.000/kg.

"Kenapa mahal? Ya itu harganya dimainkan kelompok-kelompok tertentu. Sehingga cost mahal ini dibebankan ke konsumen, siapa konsumen? Masyarakat. Nah itu sistemnya sekarang. Kalau gula itu diserahkan ke bulog saya jamin GKP sangat murah. Kalau kita bilang Rp 11.000/kg sampai ke konsumen saja kemahalan. Apalagi Rp 17.000-20.000 ini keterlaluan," terangnya.

Selain itu, menurutnya pabrik gula (PG) yang menyerap tebu petani rakyat ini terancam mati dengan pabrik lain yang menyerap gula kristal mentah (raw sugar) impor yang digiling untuk menjadi gula konsumsi.

"Banyak pabrik yang tidak menyerap tebu dari rakyat. Terus giling dari mana? Dari raw sugar, dari gula impor. Apakah itu akan semua jadi GKP? Tidak juga, banyak rembesannya. Nah ini mereka tidak mau menyerap dari petani, lama-lama petani mati. Nah yang menyerap dari petani itu menjadi terancam dengan yang menyerap raw sugar," imbuh dia.

Untuk itu, ia menyarankan agar tata niaga distribusi gula ini diperbaiki. Sehingga, penyebaran stok dalam negeri bisa merata dan harga terjangkau untuk masyarakat.

"Saya tahu persis impor sampai ke Indonesia berapa perak sih? Saya tahu persis karena saya mantan Kabareskrim. Sayangnya sekarang lebih kuat permainnya, karena saya sudah pensiun. Tapi saya tahu persis. Maka sebaiknya ini diperbaiki tata niaganya," tutup Buwas.



Simak Video "Beras Bulog Terancam Busuk, Buwas Akan Jadikan Ethanol"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)