Layanan Pay Later di Toko Online Laris Manis Imbas Corona

Trio Hamdani - detikFinance
Senin, 06 Jul 2020 09:21 WIB
Belanja online
Ilustrasi/Foto: shutterstock
Jakarta -

Pandemi COVID-19 membuat kebiasaan berbelanja orang mengalami pergeseran, dari yang tadinya membeli keperluan secara offline berpindah ke online. Hal tersebut pun membuat tren 'beli sekarang, bayar nanti' alias pay later makin diminati.

Perusahaan-perusahaan beli-sekarang-bayar-nanti (BNPL) ini telah mendapat manfaat dari peralihan ke belanja online selama pandemi COVID-19 di negara-negara termasuk Amerika Serikat, di mana bantuan negara juga telah meningkatkan penjualan ritel.

"Saya lebih cenderung menggunakannya karena mereka membuatnya lebih mudah untuk mendapatkan hal-hal yang saya inginkan sekaligus. Dan ketika saya ingin berbelanja secara Royal," kata Jessica Friend yang ditanyai pendapatnya dikutip detikcom dari CNBC, Senin (6/7/2020).

Beberapa investor sekarang bertaruh bahwa pembeli akan menjauh dari toko fisik karena kasus COVID-19 meningkat lagi di beberapa negara di seluruh dunia, sehingga meningkatkan bisnis untuk perusahaan BNPL.

Tetapi pembengkakan jumlah pelanggan juga dapat meningkatkan kredit macet, terutama di antara pengguna yang baru pertama kali menggunakan fitur tersebut.

"Banyak yang masih bergantung pada virus gelombang kedua dan pemerintah yang tetap meningkatkan permintaan," kata Andrew Mitchell dari Ophir Asset Management.

Salah satu perusahaan yang mendapat keuntungan tersebut adalah Afterpay, satu di antara segelintir perusahaan kredit alternatif yang menawarkan pinjaman kecil, sebagian besar untuk pembeli online, dan menghasilkan uang dengan membebankan pedagang komisi 4%-6%.

Perpindahan ke belanja online sebenarnya sudah berlangsung sebelum pandemi. Pergeseran tersebut telah dipercepat dengan adanya lockdown.

Afterpay mendapatkan lebih dari 1 juta pelanggan aktif baru di AS sejak Maret dan awal Mei, menjadikan basis pelanggannya di menjadi 9 juta orang.

Sementara itu para pengecer yang sangat ingin memindahkan barang dagangannya juga menjadi lebih mudah menerima kemitraan dengan perusahaan-perusahaan BNPL.

Klarna, perusahaan fintech terbesar di Eropa, mengatakan bahwa sejak Maret, pertanyaan dari pengecer yang mungkin ingin bermitra dengannya melonjak 20% rata-rata secara global.

Dengan 7,9 juta pelanggan AS, Klarna Swedia sejak itu telah mendaftar produsen perlengkapan outdoor The North Face, layanan streaming Disney dan pengecer kosmetik Sephora.



Simak Video "Tergiur Diskonan Lazada, Pasutri Ini Jadi Korban Penipuan"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/eds)