Jokowi Minta Alat Tes Corona Tak Lagi Bergantung Impor, Sanggup?

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 14 Jul 2020 19:50 WIB
Diagnostic kit atau alat tes virus Corona diproduksi secara massal di Chuncheon, Korea Selatan. Penasaran seperti apa proses pembuatannya?
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Chung Sung-Jun
Jakarta -

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro menjelaskan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta alat tes COVID-19 tidak lagi diimpor, alias menggunakan produk dalam negeri sepenuhnya.

"Presiden sudah menegaskan bahwa kalau bisa rapid test itu tidak perlu impor lagi," kata dia dalam rapat kerja (raker) dengan Komisi IX DPR RI, Selasa (14/7/2020).

Terkait kesiapan Indonesia untuk lepas dari ketergantungan impor, dia menjelaskan sudah diproduksi alat rapid test. Sudah ada dua perusahaan yang membuatnya, yaitu PT Hepatika Mataram, dan PT Prodia.

"Bulan ini produksinya 200.000 unit dan bulan depan insyaallah sudah 400.000 unit. Dan kami masih terus mencari partner industri lain yang tentunya bisa membuat produksinya lebih besar lagi," ujarnya.

Pengetesan virus Corona menggunakan produk buatan dalam negeri itu menurutnya hanya membutuhkan 5-10 menit dengan mengambil darah dari ujung jari, dan tingkat keakuratannya berdasarkan pengujian di atas 90%, ditambah produksinya menggunakan isolat virus yang bertransmisi di Indonesia.

"Satu hal lagi saya sampaikan harganya juga kompetitif yaitu Rp 75.000 per tes," sebutnya.

Pihaknya juga mencoba membuat bahan baku antigen untuk rapid test yang selama ini masih impor.

"Selain rapid test, kami juga mengembangkan PCR test kit yang saat ini sudah dipakai di berbagai lab, sudah diproduksi oleh Biofarma, mereknya itu adalah Nusantara COVID-19. Kebetulan yang menginisiasi adalah BPPT bersama dengan startup yang bernama Nusantic," tambahnya.



Simak Video "Jokowi: Impor Baja Sumber Utama Defisit Neraca Perdagangan RI"
[Gambas:Video 20detik]
(toy/eds)