Ramalan Soal Ekspor Impor RI Bulan Juni, Bagus Nggak Ya?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 15 Jul 2020 09:20 WIB
Neraca perdagangan pada Oktober 2017 tercatat surplus US$ 900 juta, dengan raihan ekspor US$ 15,09 miliar dan impor US$ 14,19 miliar.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini akan mengumumkan data ekspor impor Indonesia. Kalangan ekonom memprediksi jika neraca perdagangan bulan ini akan mengalami surplus yang lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengungkapkan periode Juni 2020 surplus di kisaran US$ 1,42 miliar, lebih rendah dibandingkan surplus Mei US$ 2,09 miliar.

"Surplus yang lebih kecil ini didorong oleh proyeksi bahwa impor diperkirakan mulai naik dibanding bulan sebelumnya. Meskipun secara tahunan, impor diperkirakan akan mengalami pertumbuhan negatif -18,47%," kata Josua saat dihubungi detikcom, Rabu (!5/7/2020).

Dia mengungkapkan kenaikan impor pada Juni didorong oleh mulai beroperasinya industri pengolahan indonesia. Hal ini terlihat dari kenaikan yang cukup signifikan dari PMI Manufacturing Indonesia menjadi 39,1 dari sebelumnya sebesar 28,6.

Selain itu kenaikan impor bulanan ini diperkirakan didorong oleh kenaikan harga minyak dunia sebesar 10,65%.

Sementara itu, ekspor Indonesia juga diprediksi akan meningkat meski tidak sebesar kenaikan impor.

"Secara tahunan kami perkirakan pertumbuhan ekspor sebesar -18,02%. Ini karena mulai menggeliatnya aktivitas manufaktur di negara partner dagang Indonesia seperti China, India dan Jepang," jelas dia.

Saat ini PMI manufaktur Jepang dan India meningkat paling signifikan dibanding kenaikan di negara lainnya. PMI Manufacturing India meningkat menjadi 47,2 dari sebelumnya, sementara PMI Manufacturing Jepang meningkat menjadi 40,8, dari sebelumnya 27,8. Sementara itu, PMI Manufacturing China naik tipis menjadi 51,2, dan menjadi negara partner utama Indonesia yang aktivitas manufakturnya berada di indikasi ekspansi (PMI Manufacturing >50).

Kenaikan ekspor bulanan ini juga ditopang oleh kenaikan harga komoditas ekspor utama Indonesia, di mana sebagian besar komoditas mengalami kenaikan harga, seperti CPO yang harganya naik sebesar 6,65%mtm dan batu bara yang harganya bertumbuh 0,29%mtm.

Peneliti Ekonomi Seniot Institut Kajian Strategis (IKS) Universitas Kebangsaan Republik Indonesia Eric Sugandi memperkirakan neraca perdagangan Indonesia bulan Juni akan surplus US$ 1 miliar.

Dia menambahkan nilai ekspor sebesar US$ 11 miliar atau tumbuh 4,6% secara bulanan dan -6,5% secara tahunan.

Kemudian untuk impor sebesar US$ 10 miliar tumbuh 18,9% secara bulanan dan -12,7% secara tahunan.

"Kenaikan ekspor didorong oleh peningkatan permintaan ekspor non migas dari negara tujuan utama ekspor Indonesia. Sementara kenaikan impor terutama didorong oleh impor bahan baku sehubungan dengan mulai dibukanya 9 sektor pada perekonomian Indonesia," jelas dia.



Simak Video "Berapa Jumlah Penduduk RI Saat Ini? Simak Hasil Sensus BPS 2020"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/zlf)