IMF: Perempuan Paling Terpukul Resesi Imbas Corona

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 22 Jul 2020 10:10 WIB
SINGAPORE - DECEMBER 05:  Tourists ride the river boat along Boat Quay on December 5, 2013 in Singapore. The riverside at Boat Quay, Clarke Quay and Robertson Quay are decorated with Christmas decorations and will also feature interactive Christmas themed events and activities during the Christmas by the River event which runs from 15 November 2013 to 22 December 2013.  (Photo by Suhaimi Abdullah/Getty Images For Singapore River One)
Foto: Suhaimi Abdullah
Jakarta -

International Monetary Fund (IMF) memprediksi ancaman resesi di masa pandemi virus Corona akan lebih berdampak bagi kaum perempuan. Resesi mengancam peluang ekonomi perempuan. Parlemen diimbau meningkatkan upaya memperbaiki kondisi perempuan di negaranya masing-masing.

"Pandemi COVID-19 mengancam peluang ekonomi perempuan, memperluas kesenjangan gender," kata Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, dikutip dari CNN, Rabu (22/7/2020).

Menurut IMF perempuan akan begitu terdampak resesi karena dan sulit membuat mereka kembali bekerja. Seperti saat ini dengan penutupan sekolah, tanggung jawab perempuan akan bertambah dari merawat anak, menjadi guru di rumah, dan urusan rumah tangga lainnya.

IMF menambahkan semakin lama orang tidak bekerja karena terdampak PHK, maka semakin sulit mereka kembali bekerja meskipun ekonomi kembali pulih.


Kasus ini berbeda dengan resesi 2008 yang dijuluki man-cession yang berdampak pada kaum pria. Resesi kali ini memungkinkan kaum perempuan yang terdampak, terutama di bidang ritel, pariwisata, keramahtamahan, dan ibu rumah tangga.

IMF mengatakan dampak yang tidak proporsional pada perempuan dapat dikurangi, dengan kebijakan khusus. Anggota parlemen dapat memperluas bantuan pengangguran, atau memberikan insentif untuk menyeimbangkan tanggung jawab pekerjaan dan perawatan keluarga, serta menawarkan akses ke perawatan kesehatan dan keluarga berencana.

"Apa yang baik bagi perempuan pada akhirnya baik untuk mengatasi ketidaksetaraan pendapatan, pertumbuhan ekonomi, dan ketahanan," kata ungkap IMF.

Beberapa negara sudah menerapkan kebijakan semacam itu. Berbagai negara di Eropa, termasuk Italia dan Austria, telah menerapkan hak hukum untuk cuti bagi orang tua dengan anak di bawah usia tertentu.



Simak Video "Sisa 1 Minggu Lagi Buat RI Cegah Jurang Resesi, Bisa?"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)