Jouska Rusak Citra Perencana Keuangan

Vadhia Lidyana - detikFinance
Selasa, 28 Jul 2020 07:45 WIB
ilustrasi menabung
Foto: Getty Images/iStockphoto/RomoloTavani

Ia berpendapat, jika saran yang diberikan sebuah lembaga perencana keuangan justru menimbulkan ketakutan, besar kemungkinan perencana keuangan itu berupaya merujuk pada satu produk.

"Kalau financial planner itu suka menyebarkan ketakutan di sosial media besar kemungkinan dia tidak independen. Karena dia pasti sangat pro pada produk tertentu, dan tidak pro di produk yang lain," imbuh dia.

Safir menilai, selama ini Jouska kerap kali menjunjung tinggi satu produk investasi, yakni saham. Ia pun tak heran mengapa hal itu dilakukan dengan terungkapnya kasus ini.

"Saya dulu sempat curiga, kok dia ini menjunjung tinggi saham melulu. Reksa dananya dijelek-jelekkan, emas juga dijelek-jelekkan terus sama dia. Ternyata dia memang ya ke saham. Jadi pemilihan sahamnya pun sebagai seorang MI, tapi kalau MI lihat, pemilihan sahamnya itu ditertawakan. Kenapa? Karena saham yang dipilih ya saham seperti itu," tutur Safir.

Ia mengatakan, pada umumnya perencana keuangan tak akan menyarankan kliennya membeli saham hanya untuk dijual kembali (trading). Menurutnya, perencana keuangan selalu berupaya menciptakan mindset klien sebagai pebisnis, yakni fokus pada pembagian dividen.

"Kami nggak pernah menyarankan beli saham itu trading. Selalu belinya itu harapkan dividen, bukan trading. Nah ini dia belinya saham gorengan which is itu trading. Padahal kita menyarankan kalau beli saham itu fokus kepada dividen, kita betul-betul mindset-nya sebagai pemilik bisnis," tandas dia.

Halaman


Simak Video "Pemerintah Diminta Atur Kriteria Pembicara Saham"
[Gambas:Video 20detik]

(fdl/fdl)