Kemilau Emas, Bibit Kerajaan Bisnis Sinar Mas Grup

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 09 Agu 2020 20:07 WIB
Sinar Mas menyerahkan bantuan kepada unit Resimen Mahasiswa (Menwa) UGM, Yogyakarta. Bantuan yang diberikan berupa 1 unit kendaraan operasional.
Foto: Dok. Sinar Mas

Usahanya mulai dari berjualan dagangan ayahnya keliling kampung, jual biskuit untuk bayar guru hingga jual barang rongsokan.

Bisnisnya saat itu masih merambah tekstil dan kopra. Kedua bisnsi itu dia kembangkan hingga merambah ke Semarang dan Ujung Pandang, serta membuka kantor di Jakarta.

Barulah pada 1969 dia mendirikan pabrik minyak goreng Bimoli di Sulawesi Utara yang merupakan kepanjangan dari Bitung Manado Oil Limited.

Pendirian pabrik tersebut tidak lepas dari kebijakan ekonomi Orde Baru saat itu terkait Undang-Undang Penanaman Modal Dalam Negeri di berbagai bidang. Kebijakan itu memberikan insentif kepada dunia usaha termasuk libur bayar pajak.

Eka mendirikan pabrik Bimoli dengan modal Rp 800 juta yang dia ambil dari kantong pribadinya. Saat itu pabriknya bisa menggiling 120 ribu ton kopra per tahun. Seiring berjalannya waktu Bimoli terus berkembang menjadi perusahaan besar dan mampu mengekspor produknya.

Eka juga mulai merambah bisnis lain dengan menggandeng pihak dari negara lain untuk berbagai produk. Mulai dari tekstil, seng, hingga biskuit. Pada 1974 Eka juga mendirikan Tjiwi-Kimia di Mojokerto.

Bisnis Eka juga seakan mendapatkan vitamin ketika pemerintah mulai mengalihkan pertumbuhan ekonomi ke dua sektor yakni perkebunan dan perbankan. Eka beruntung memiliki bisnis di dua sektor tersebut, kebetulan dia juga sudah mengakuisisi Bank International Indonesia (BII).

Kisah Eka membangun kerajaan bisnisnya juga diceritakan oleh mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan lewat situsnya www.disway.id. Diceritakan sejak 1990-an awal Eka sudah menjadi orang terkaya kedua di Indonesia setelah Liem Sioe Liong (Salim Grup).

"Pabrik kertasnya terbesar di Asia. Bisnis Grup Sinar sudah merambah ke segala arah. Saya pernah ke Ningbo. Sudah ada Bank International Ningbo. Miliknya. Saya ke Suzhou. Sudah ada pabrik kertas sangat besar di sana. Saya ke Shanghai. Gedung pencakar langitnya sangat menonjol di pusat kota Shanghai," tulis Dahlan.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3


Simak Video "Jatuh Bangun Bisnis Eka Tjipta"
[Gambas:Video 20detik]