Sri Mulyani Ungkap Dunia Butuh Rp 116.000 T buat Tangani Corona

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 27 Agu 2020 14:23 WIB
Menkeu Sri Mulyani dan Menteri BUMN Erick Thohir bicara soal keberadaan Harley Davidson dan Brompton di pesawat Garuda. Menteri BUMN ungkap pemilik Harley itu.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan ketidakpastian ekonomi akibat pandemi Corona masih belum diketahui kapan berakhir. Padahal dana penanggulangan pandemi COVID-19 sudah dihabiskan dalam jumlah besar.

Berdasarkan hitungan IMF, Sri Mulyani menyebut dibutuhkan dana sekitar US$ 8 triliun atau Rp 116.000 triliun (kurs Rp 14.500) yang sekitar 10% dari produk domestik bruto (PDB) global untuk mengatasi pandemi Corona.

"Dalam hitungan International Monetary Fund lebih dari US$ 8 triliun. Apakah 8 kali GDP Indonesia adalah resources atau sumber daya yang digunakan untuk menangani dan kemudian mengatasi COVID tidak hanya dari sisi kesehatan tapi juga dari sisi ekonomi dan sosial," kata Sri Mulyani saat menjadi pembicara kunci di webinar Internasional Mahkamah Agung, Kamis (27/8/2020).

Sri Mulyani menyebut seluruh negara terdampak COVID-19 masih mencari titik keseimbangan antara penanganan sektor kesehatan dengan ekonomi. Hingga saat ini, angka penyebaran masih relatif tinggi.

"COVID-19 adalah bencana kemanusiaan yang telah mempengaruhi seluruh faktor paling dalam kehidupan masyarakat berinteraksi secara sosial, politik, kultural, tentu saja dari sisi ekonomi," jelasnya.

"Jutaan pekerja kehilangan pendapatan atau pekerjaannya, banyak perusahaan mengalami kebangkrutan," tambahnya.

Oleh karena itu, Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengungkapkan dibutuhkan dana sekitar US$ 8 triliun untuk menyelesaikan masalah Corona.

"Seluruh dunia melakukan kebijakan counter cyclical. Seluruh dunia menghadapi ketidakpastian tentang masa depan ini karena kita tidak tahu apakah second wave akan terjadi, apakah vaksin akan segera ditemukan dan bisa didistribusikan," ungkapnya.



Simak Video "Sri Mulyani Akui PSBB Jadi Biang Kerok Ekonomi RI Minus"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/ara)