Tak Bakal Ada Lagi Tas Plastik dari LEGO di 2021

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 16 Sep 2020 16:16 WIB
Lego pieces are seen in the worlds biggest Lego store in Leicester Square in London, Britain November 17, 2016. REUTERS/Stefan Wermuth
Foto: Reuters/Stefan Wermuth
Jakarta -

Produsen mainan LEGO Group mengumumkan akan mengganti kemasan produknya dengan tas yang dibuat dari kertas daur ulang. Sebelumnya, perusahaan menggunakan plastik sekali pakai. Rencana ini akan mulai dilakukan pada 2021.

Dikutip dari CNN, Rabu (16/9/2020) perusahaan berkomitmen menginvestasikan US$ 400 juta setara Rp 5,9 triliun (kurs Rp 14.800) untuk merealisasikan rencana itu tiga tahun ke depan.

Wakil Presiden Lingkungan LEGO Tim Brooks mengatakan dorongan untuk mengganti plastik menjadi tas daur ulang kertas datang dari surat anak-anak yang menanyakan mengapa perusahaan masih menggunakan plastik. Brooks mengungkapkan dari sanalah inspirasi tas daur ulang kertas berasal.

"Ini bagian dari ambisi kami untuk membuat semua kemasan kami berkelanjutan pada akhir 2025," ujar Tim Brooks.

LEGO Group sejauh ini telah menggunakan sekitar 5.000 metrik ton plastik per tahun untuk mengemas produknya. Masalah yang jauh lebih besar yakni bahan potongan LEGO itu sendiri, yang membutuhkan 90.000 metrik ton plastik per tahun untuk membuatnya.

Perusahaan mengatakan telah berusaha bertahun-tahun untuk mengembangkan alternatif penggati plastik berbasis minyak bumi. Beberapa telah diganti dengan itu, namun sebagian besar masih menggunakan plastik.

Produk LEGO yang diproduksi secara berkelanjutan harus aman, tahan lama, dan secara teknis seperti jenis plastik, dengan warna tidak mudah luncur. Potongan-potongan harus cukup kuat untuk disatukan dan menahan struktur yang rumit di tempatnya.

Menemukan alternatif ramah lingkungan untuk plastik merupakan cara untuk mengatas emisi gas rumah kaca. Sebuah studi di jurnal Science yang terbit pada Juli menemukan meski dunia mengurangi polusi plastik 80% pada 2040, masih akan ada sekitar 710 juta metrik ton limbah plastik yang mencemari lingkungan.

Tetapi bagi banyak perusahaan, pengganti plastik sulit ditemukan. Misalnya, Nestlé, perusahaan makanan dan minuman itu menggunakan 1,5 juta metrik ton kemasan plastik tahun lalu. Namun, Januari Nestle berencana membayar lebih untuk bahan daur ulang guna menciptakan kemasan ramah makanan.

LEGO mengatakan mereka sedang bekerja dengan lembaga penelitian dan bisnis lain untuk menemukan bahan yang tahan lama dan berkualitas tinggi seperti plastik.

"Kami berada dalam krisis polusi plastik dan semua perusahaan perlu mengurangi penggunaan plastik mereka," kata Emma Priestland, koordinator kampanye perusahaan global di Break Free From Plastic.



Simak Video "Dongkol dengan Temuan Beras Plastik, Dedi Mulyadi Sidak Gudang Bulog"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/eds)