Waspada! Investasi Bodong Makin Ramai di Tengah Ancaman Resesi

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 23 Sep 2020 12:36 WIB
Investasi Bodong
Foto: Tim Infografis: Nadia Permatasari
Jakarta -

Resesi yang diakibatkan pandemi COVID-19 mencerminkan melemahnya daya beli masyarakat dan terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun sudah memastikan Indonesia akan resesi pada September.

Di tengah situasi tersebut, investasi bodong yang mengiming-imingi keuntungan besar pun makin tumbuh subur karena mampu memberi janji surga untuk membantu masyarakat yang sedang kesulitan ekonomi.

"Jadi di masa pandemi ini juga makin banyak bermunculan investasi-investasi itu yang menawarkan bonus, menawarkan reward yang sebenarnya secara skema bisnisnya tidak rasional untuk mendapatkan reward yang cukup besar," kata Ekonom di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira saat dihubungi detikcom, Rabu (23/9/2020).

Apalagi biasanya investasi bodong menjanjikan keuntungan lebih besar dibandingkan deposito, saham, dan instrumen investasi sah lainnya.

"Nah tiba-tiba ada model investasi yang nilai keuntungannya besar sekali bagi investor. Nah berarti ini kan orang memandang ini sebagai suatu kesempatan, apa lagi nih yang bisa menawarkan di tengah resesi," sebutnya.

Apalagi situasi saat ini tak sedikit orang yang gajinya dipotong hingga kehilangan pekerjaan. Mereka amat mudah tergoda dengan investasi bodong.

"Yang baru kehilangan pekerjaan atau baru kehilangan pendapatan, ada pemotongan gaji, itu juga harus mencermati juga, karena kalau misalnya ada tawaran yang menggiurkan itu gampang sekali tergoda tanpa melakukan kroscek atau pendalaman lebih lanjut," tambahnya.

Baru-baru ini aplikasi Alimama yang dikatakan bisa menghasilkan uang mendapat sorotan. Suara-suara sumbang terkait dugaan penipuan yang dilakukan pengelola aplikasi ini mulai bermunculan. Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan pun menyatakan sedang melakukan pengawasan atas aplikasi Alimama.

Seperti yang dikutip dari CNN Indonesia, Ketua SWI OJK Tongam L Tobing mengatakan aplikasi Alimama berada dalam pengawasan. Namun Satgas menurut Tongam belum melakukan pendalaman. "Kami belum pernah bahas dalam rapat Satgas. Namun Alimama sudah menjadi perhatian kami," kata Tongam.

Menurut Tobing, hingga kini pihaknya belum mendapatkan temuan terkait aplikasi Alimama yang berarti. Namun, pihaknya telah menerima informasi dari masyarakat seputar kegiatan yang melibatkan Alimama. Tongam memastikan dalam waktu dekat akan ada pembahasan tentang aplikasi online ini.

(toy/dna)