Penumpang MRT Turun Imbas PSBB Jakarta, Begini Datanya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 30 Sep 2020 12:51 WIB
Di masa PSBB transisi, layanan transportasi MRT Jakarta kembali beroperasi normal. Namun jumlah penumpang hanya dibatasi 65 orang dalam satu kereta dan totalnya 390 penumpang dalam satu rangkaian kereta.
MRT Jakarta/Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang kembali diperketat oleh Pemprov DKI Jakarta membuat jumlah penumpang MRT Jakarta turun di bulan September. Jumlah penumpang di bulan September tercatat 13.101 atau turun dari bulan sebelumnya 16.977 penumpang.

"Pemberlakuan kembali PSBB jilid dua membuat ridership kita turun jadi 13 ribu penumpang. Kita berharap PSBB ini bisa efektif menekan kasus COVID, sehingga kalau direlaksasi lagi penumpang tetap berjalan," ungkap Dirut PT MRT Jakarta William Sabandar dalam diskusi virtual, Rabu (30/9/2020).

Meski begitu, William tetap optimis penumpang MRT Jakarta tidak akan turun dalam. Berbeda dengan PSBB yang dilakukan pada awal pandemi, kini tidak ada stasiun MRT Jakarta yang mesti ditutup.

Di samping itu, waktu tunggu kereta antar stasiun alias headway ditetapkan 10 menit. Hal ini dinilai William masih berada dalam jangkauan kenyamanan penumpang.

"Good news-nya semua stasiun operasi, nggak ada yang ditutup. Kemudian jarak tunggu kereta antar stasiun cuma 10 menit, masih dalam jangkauan kenyamanan penumpang," ujar William.

Dari data yang dipaparkan William, penumpang MRT Jakarta anjlok sangat dalam di bulan April dan Mei seiring dengan penerapan PSBB yang ketat. Jumlahnya pada April cuma 4.059 dan Mei 1.405 penumpang.

Dia melanjutkan kini MRT Jakarta beroperasi mulai dari jam 05.00 hingga 19.00 WIB baik di hari kerja maupun akhir pekan. Kemudian kereta khusus wanita ditiadakan untuk sementara waktu.

William pun mengatakan kini pihaknya telah melarang penggunaan masker scuba di dalam MRT Jakarta. Alasannya, masker scuba dinilai tidak bisa memproteksi penumpang dari penyebaran virus Corona.

"Kami sekarang melarang juga penggunaan masker scuba satu lapis. Karena itu kurang bisa menjadi alat memproteksi diri dari paparan virus," ungkap William.

(ara/ara)