Rasio Utang Malaysia Bengkak Gara-gara Corona

Hendra Kusuma - detikFinance
Selasa, 06 Okt 2020 20:05 WIB
Malaysia Menghadapi Krisis Politik di Tengah Pandemi COVID-19
Foto: ABC Australia
Jakarta -

Menteri Keuangan Malaysia Tengku Zafrul Aziz menyebut rasio utang Malaysia akan naik seiring pemerintah menyiapkan berbagai stimulus atau insentif bagi dunia usaha dan masyarakat di tengah pandemi Corona.

Meningkatnya rasio utang Malaysia karena terjadinya pelebaran defisit demi memenuhi kebutuhan stimulus atau insentif selama pandemi Corona.

"Defisit fiskal akan mencapai sekitar 5,8% hingga 6%. Sejauh ini, suntikan fiskal ke dalam perekonomian mencapai sekitar 20% dari PDB," kata Zafrus seperti dilansir dari CNBC, Selasa (6/10/2020).

"Tentunya, kami masih fokus pada tanggung jawab fiskal. Kami memiliki utang terhadap PDB sekitar 53%, itu akan berakhir di sekitar 56%," tambahnya.

Pada Agustus 2020, parlemen menyetujui pemerintah Malaysia melebarkan rasio utang menjadi 60% terhadap PDB. Pelebaran defisit serta meningkatnya rasio utang ini sebagai bentuk sementara di masa pandemi Corona.

"Kami mendapat persetujuan dari parlemen untuk naik hingga 60%," jelasnya.

Tercatat, Malaysia sudah meluncurkan sekitar 305 miliar ringgit atau setara US$ 73,3 miliar. Anggaran tersebut digunakan untuk paket stimulus ekonomi negeri Jiran ini.

Peningkatan rasio utang Malaysia sendiri pernah diingatkan oleh Moody's. Lembaga pemeringkat itu memperingatkan jauh sebelum pandemi Corona.

Pada saat itu, Moody's Investors Service mengatakan beban utang Malaysia jauh lebih tinggi dibandingkan negara lain dengan peringkat kredit negara 'A'.

Meski begitu, Zafrul mengatakan pemerintah tetap optimistis ekonomi Malaysia akan tumbuh sekitar 5,5% hingga 8% di tahun 2021. Sementara di tahun 2020, diperkirakan berada di kisaran minus 5,5% hingga minus 3,5%.

(hek/ara)