Ini Asal Mula RI Jadi Eksportir Minyak Sawit Terbesar Dunia

Nurcholis Ma - detikFinance
Sabtu, 24 Okt 2020 19:05 WIB
Pekerja menurunkan Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit dari dalam truk pengangkutan di tempat penampungan Desa Leuhan, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Rabu (14/10/2020). Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat volume ekspor produk minyak sawit dan turunannya pada Agustus 2020 sebesar 2,68 juta ton atau turun 14,25 persen dibandingkan bulan Juli yang mencapai 3,13 juta ton. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/foc.
Foto: ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS
Jakarta -

Forum Pengembangan Perkebunan Strategis Berkelanjutan (FP2SB) menyebut tak ada yang menyangka pengembangan kelapa sawit yang dilakukan kurun 40 tahun lalu mampu menjadikan Indonesia saat ini sebagai produsen dan eksportir minyak sawit terbesar dunia. Keberhasilan tersebut disebutnya tak lepas dari pola inti plasma yang dikembangkan dalam program perusahaan inti rakyat (PIR).

Ketua FP2SB Achmad Mangga Barani mengemukakan pada saat sawit ini dikembangkan di sejumlah daerah, seperti di Kalimantan Barat, banyak orang yang belum tahun apa itu sawit.

Namun, dengan Inpres Nomor 1 tahun 1986, pemerintah menyiapkan pendanaan melalui bank dan petani plasmanya didatangkan dari luar (PIR Trans), dengan 2 hektare per kepala keluarga (KK) yang akhirnya budidaya sawit tersebut mampu berkembang sampai saat ini.

Menurut Mangga Barani, pola kemitraan inti-plasma itulah yang membuat program PIR berhasil. Inti, berupa perusahaan perkebunan dan petani (plasma)-nya didatangkan dari luar daerah, dan bank hanya menyalurkan bantuan kepada 784.007 KK.

Berkat PIR inilah yang menjadikan Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar. Pada tahun 2006 bahkan luasannya mencapai 6,59 juta hektare dengan produksi sebanyak 17,35 juta ton.

"Pada saat itu, (tahun 2006) kita sudah menyalip Malaysia. Bahkan, saat ini sawit mampu mendulang devisa negara dan menciptakan lapangan kerja," kata Mangga Barani, dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/10/2020)?

Dalam sebuah webinar pada Kamis (22/10), Mangga Barani juga mengatakan sejak 40 tahun lalu pemerintah sudah berpikir ke depan, terkait dengan kemandirian energi.

"Jadi sudah dipikirkan, kira-kira apa pengganti minyak bumi dari energi yang terbarukan. Setelah proses sekitar 40 tahun, baru dibuktikan kalau sawit mampu kalahkan minyak bumi dan menjadi alternatif energi terbarukan," kata Mangga Barani.

Menurut Mangga Barani, karena program PIR saat ini sudah tak ada, pemerintah diharapkan bisa meniru pola kemitraan tersebut dalam bentuk lain melalui revitalisasi perkebunan. Salah satunya adalah mengembangkan perkebunan (sawit) melalui kemitraan.

"Setiap lokasi pengembangan diarahkan untuk terwujudnya sistem perkebunan yang kompak, serta memenuhi skala ekonomi. Paling tidak setiap KK luas lahannya 4 hektare," ujar Mangga Barani.

Mangga Barani juga menyarankan agar pemerintah memberi jaminan kepastian dan keberlanjutan usaha sawit, melalui pengelolaan kebun dalam satu manejemen.

"Selain ada kredit dengan bunga rendah bagi petani, dengan tenggang waktunya sampai tanaman menghasilkan, juga diperlukan petugas pendamping," papar Mangga Barani.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (PPHP), Dedi Junaedi mengatakan Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Ditjen Perkebunan sampai saat ini tetap konsisten untuk memberdayakan petani sawit.

"Jadi, kami mendorong petani sawit melalui kemitraan, memberdayakan petani sawit, menguatkan kelembagaan petani dan mengarahkan budidaya sawit yang berkelanjutan," kata Dedi.

Menurut Dedi, untuk menjaga keberlanjutan agribisnis sawit, Ditjen Perkebunan hingga saat ini terus menyelesaikan kebun sawit rakyat yang masuk dalam kawasan dan adanya tumpang-tindih pengelolaan agribisnis sawit.

"Saya kira ini sangat penting ditindaklanjuti. Juga tentang kewajiban ISPO bagi petani sawit rakyat. Sehingga peran pemberdayaan petani sawit sangatlah penting dikedepankan," pungkas Dedi.

(mul/ega)