Dirut TransJakarta Beberkan Rencana Skybridge CSW hingga Bus Listrik

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 29 Okt 2020 11:28 WIB
Dirut Tj, Sardjono Jhony
Foto: Dirut Tj, Sardjono Jhony (Dok.TransJakarta)
Jakarta -

Dampak pandemi virus Corona (COVID-19) sangat terasa para perusahaan pengelola transportasi publik, salah satunya PT Transportasi Jakarta (TransJakarta). Pada Maret-Mei lalu, jumlah penumpang TransJakarta anjlok, bahkan hanya menyisakan 15%.

"Kalau penurunan Maret-April-Mei itu drastis, penumpang kita tinggal 15%," ungkap Direktur Utama PT Transportasi Jakarta Sardjono Jhony Tjitrokusumo dalam wawancara khusus dengan detikcom, Selasa (27/10/2020).

Belum lagi pengeluaran perusahaan yang membengkak hampir dua kali lipat karena banyaknya tambahan keperluan untuk pencegahan virus Corona di perusahaan.

"Biaya kita naik hampir 80%," ujar Sardjono.

Adapun bengkaknya pengeluaran itu disebabkan oleh kebijakan physical distancing yang memberikan beban operasional bus.

"Ya kan 90 penumpang yang tadinya bisa dibawa 1 bus, sekarang mesti 3 bus. Jadi mau nggak mau tadinya ada hubungan langsung antara jumlah pendapatan dan jumlah biaya, sekarang jadi nggak ada. Jadi tidak langsung hubungannya. Karena penumpang yang biasa diangkut satu bus, menjadi tiga bus. Jadi biaya membengkak walaupun penumpang turun. Kan biasanya penumpang turun, biaya turun. Ini tidak, jadi penumpang turun, biaya naik," terang Sardjono.

Selain itu, setiap malam perusahaan selalu mensterilkan seluruh armada bus yang beroperasi dengan disinfektan. Otomatis, perusahaan harus mengeluarkan biaya lebih.

"Sekarang angkutan di atas pukul 23.00 WIB kita provide untuk angkutan medis, khusus, buat dokter-dokter yang pulang malam, dan sebagainya. Ketika besok beroperasi lagi, setiap malam kita disinfektan. Aman dan bersih sejauh yang sudah kita instruksikan dan kita lakukan," tutur dia.

Ditambah lagi dengan demonstrasi besar-besaran menolak Omnibus Law Cipta Kerja pada 8 Oktober 2020 lalu yang sampai merusak puluhan halte, dan sebanyak 6 halte dibakar pendemo sampai hangus. Perusahaan pun harus menelan kerugian miliaran rupiah.

"Karena tidak bisa dipakai, dan kerugian asetnya, kan ada yang terbakar, tidak bisa dipakai. Padahal baru setahun, seperti Tosari itu. Dibakar sampai sedemikian rupa, sampai bajanya melenting. Nah itu kerugian total Rp 65 miliar," ujar Sardjono.

Namun, perusahaan tetap berusaha 'unjuk gigi' dengan menjalankan sederet rencana kerjanya, mulai dari program Langit Biru yakni memperbanyak armada bus listrik, hingga melanjutkan halte integrasi.

Rencana TransJakarta di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3