Sampai Kapan Gelombang PHK Pabrik Sepatu Berlanjut?

Trio Hamdani - detikFinance
Jumat, 06 Nov 2020 16:43 WIB
Ilustrasi PHK
Foto: Ilustrasi PHK (Tim Infografis: Zaki Alfarabi)
Jakarta -

Pandemi COVID-19 membuat industri persepatuan benar-benar tertekan. Baru-baru ini pemutusan hubungan kerja (PHK) menerpa 1.800 karyawan pabrik sepatu di Cikupa, Tangerang. Beberapa pabrik sepatu lainnya juga sudah diterpa badai PHK sejak merebaknya virus Corona.

Hingga kini, pandemi COVID-19 masih berlangsung. Lalu apakah badai PHK akan terus berlanjut?

Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakri mengatakan kalaupun PHK masih akan terjadi di industri persepatuan tidak akan sebesar sebelumnya.

"Saya rasa mungkin setelah kemarin ada penyusutan (karyawan), saya rasa mungkin kondisinya tidak akan masif terjadi PHK besar-besaran, saya rasa nggak," kata dia saat dihubungi detikcom, Jumat (6/11/2020).

Dia menerangkan industri benar-benar tertekan di awal-awal merebaknya virus Corona, yakni bulan Maret hingga Juni.

"Sejak Maret itu sudah mulai sektor kita terganggu. Maret-April itu industri kita untuk market domestik (terganggu), kemudian Mei, Juni, Juli itu industri kita yang orientasi ekspor juga mulai terganggu," sebutnya.

Beruntungnya, pasar ekspor mulai pulih sejak September dan pesanan sudah mulai masuk. Tetapi memang pesanan yang masuk belum 100% pulih. Lantaran orderan belum benar-benar pulih kemudian terjadi efisiensi dan PHK massal.

"Ekspor kita kan sebenarnya tumbuh, masih di angka positif, terakhir itu 7% walaupun memang itu sebenarnya jauh di bawah target kita, seharusnya 2020 ini tumbuh 13%. Tapi 2020 ini realitasnya terakhir kita hanya bisa tumbuh sekitar 7%. Artinya ada gap di situ. Nah, saya rasa gap itu yang kemudian ketika kondisi belum normal, ada beban karena dampak COVID itu kemudian terjadi PHK," paparnya.

Pihaknya berharap dengan mulai adanya pemulihan akan membuat kapasitas produksi meningkat sehingga PHK bisa dihindari.

"Saya harap sih dari pemulihan itu akan kontribusinya ke demand (permintaan) ya. Kalau kemudian ke demand artinya kontribusinya juga ke kapasitas (produksi) kita," tambahnya.

(toy/ara)