Rencana China Rujuk dengan AS dan Pangkas Tarif Perdagangan

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 19 Nov 2020 23:08 WIB
Chinese President Xi Jinping speaks during an event to honor some of those involved in Chinas fight against COVID-19 at the Great Hall of the People in Beijing, Tuesday, Sept. 8, 2020. Chinese leader Xi Jinping is praising Chinas role in battling the global coronavirus pandemic and expressing support for the U.N.s World Health Organization, in a repudiation of U.S. criticism and a bid to rally domestic support for Communist Party leadership. (AP Photo/Mark Schiefelbein)
Foto: AP Photo/Mark Schiefelbein: Presiden China, Xi Jinping
Jakarta -

Presiden China Xi Jinping mengisyaratkan akan terus bekerja sama dengan negara lain, termasuk Amerika Serikat (AS). Sebelumnya ketegangan perdagangan antara China dan AS telah meningkat dalam dua tahun terakhir.

"Kami pasti tidak akan menempuh jalan pembalikan sejarah, tidak akan berusaha untuk memisahkan atau menciptakan lingkaran kecil yang tertutup dan eksklusif," kata Xi dikutip dari CNBC, Kamis (19/11/2020).

Dia berbicara melalui video di Asia-Pacific Economic Cooperation CEO Dialogues, yang merupakan pertemuan virtual para pemimpin pemerintah dan bisnis. Xi juga mengatakan China akan memotong tarif dan menandatangani lebih banyak perjanjian perdagangan bebas, namun dia tidak secara spesifik menyebut nama AS.

China dan AS telah mengenakan tarif atas barang bernilai miliaran dolar dari negara lain karena ketegangan perdagangan tumbuh di bawah kepemimpinan Presiden AS Donald Trump. Tidak jelas apakah Presiden AS terpilih Joe Biden akan menurunkan tarif, tetapi analis mengatakan AS kemungkinan akan terus mengambil sikap keras terhadap Beijing di bawah pemerintahan baru.

Pidato Xi pada hari Kamis datang setelah China menandatangani kesepakatan perdagangan besar-besaran dengan 14 negara lain di Asia-Pasifik selama akhir pekan. Hal itu merupakan kesepakatan perdagangan terbesar di dunia hingga saat ini, yang mencakup hampir sepertiga dari populasi global sekitar 30%.

Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP/Regional Comprehensive Economic Partnership) juga ditandatangani oleh Jepang, Korea Selatan, Australia dan Selandia Baru, dan 10 negara anggota ASEAN. Di tengah pandemi virus Corona dan ketegangan perdagangan tahun ini, kawasan itu menggantikan AS dan Uni Eropa (UE) sebagai mitra dagang terbesar China.

UE dan China telah mengerjakan perjanjian investasi mereka sendiri, meskipun kemajuan lambat dalam negosiasi telah meredupkan harapan kesepakatan pada akhir tahun.

Namun, dalam pidatonya di awal November, Xi mengatakan China akan bekerja untuk penandatanganan awal RCEP dan mempercepat negosiasi perdagangan China-UE, serta perjanjian perdagangan bebas China-Jepang-ROK (Republik Korea).

Menjaga hubungan bisnis yang baik dengan negara lain adalah penting bagi China, meskipun China telah tumbuh menjadi kekuatan ekonomi. Para analis mengatakan pemerintahan Biden kemungkinan akan memungkinkan AS untuk bekerja dengan sekutunya dalam strategi yang lebih kohesif melawan China, versus pendekatan Trump yang lebih nasionalistis. Selain itu, ekspor masih menyumbang porsi yang signifikan dari perekonomian China, meskipun pihak berwenang telah berupaya untuk meningkatkan peran konsumsi domestik.

(hns/hns)