Data Pribadi Marak Diperjualbelikan, Berapa Harganya?

Soraya Novika - detikFinance
Jumat, 20 Nov 2020 19:15 WIB
Puluhan Ribu Data Pribadi Warga Australia Tersebar
Ilustrasi/Foto: Australia Plus ABC

2. Data e-wallet

Untuk kategori data ini, yang paling diminati adalah data-data akun Paypal. Data jenis ini dibanderol mulai US$ 98,15 hingga US$ 320,39 atau setara Rp 1,37 juta hingga Rp 4,48 juta. Paling murah adalah data akun Western Union yang diretas dengan saldo minimal US$ 1.000 dihargai US$ 98,15. Sedangkan yang paling mahal data akun Paypal dengan saldo US$ 1.000- US$ 3.000 dihargai $320,39.

3. Dokumen Palsu

Adapun yang dimaksud dokumen palsu di sini seperti SIM, asuransi, rekening bank, passport, uang palsu, ID card, hingga ID mahasiswa. Data-data itu dibanderol mulai dari US$ 25 hingga US$ 1.500 setara Rp 350 ribu hingga Rp 21 juta. Paling murah untuk data rekening bank Wells Fargo di harga US$ 25 dan yang paling mahal data passport warga negara AS, Kanada, dan Eropa senilai US$ 1.500.

4. Akun Sosial Media

Kategori data ini meliputi akun berbagai sosial media seperti Facebook, Instagram, Tik Tok, Spotify hingga LinkedIn. Akun sosmed paling banyak diburu adalah akun dengan minimal 1.000 followers. Data-data ini dibanderol mulai dari US$ 1 hingga US$ 155,73. Data akun Gmail menjadi yang paling termahal.

5. Malware

Selain data pribadi, data perangkat lunak atau Malware juga ikut diperjualbelikan di Dark Web. Untuk kategori ini dibanderol mulai dari US$ 70 hingga US$ 6.000.

6. DDoS Attack

DDoS Attack merupakan salah satu jenis serangan cyber, namun yang satu ini jenisnya adalah tautan phishing. Salah satu cara kerjanya dengan mengirimkan email dan SMS menyertakan tautan link yang tidak jelas isinya dan berpotensi menjadi kampanye penyebaran malware atau perangkat lunak berbahaya. Data semacam ini dibanderol mulai dari US$ 10 sampai US$ 800 lebih.

Halaman

(eds/eds)