Baru 58,7% Terserap, Anggaran PEN Diproyeksi Tak Habis di 2020

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 23 Nov 2020 12:28 WIB
Petugas menyusun uang di Cash Center Bank BNI di Jakarta, Jumat (17/6/2016). Bank BUMN tersebut menyiapkan lebih dari 16.200 Anjungan Tunai Mandiri (ATM) untuk melayani kebutuhan uang tunai saat lebaran. BNI memastikan memenuhi seluruh kebutuhan uang tunai yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp 62 triliun atau naik 8% dari realisasi tahun sebelumnya. (Foto: Rachman Harryanto/detikcom)
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Realisasi penyerapan anggaran pemulihan ekonomi nasional (PEN) terus naik perlahan. Sisa 1 bulan menuju akhir tahun 2020, anggarannya terserap Rp 408,61 triliun atau setara 58,7% dari pagu anggaran Rp 695,2 triliun.

"Realisasi PEN sampai saat ini secara keseluruhan per tanggal 18 November mencapai 58,7% dari pagu," kata Kepala Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (PKAPBN) BKF, Ubaidi Socheh Hamidi dalam webinar yang diselenggarakan INDEF, Senin (23/11/2020).

Lebih rinci dijelaskan, total realisasi yang mencapai Rp 408,61 triliun itu untuk klaster kesehatan mencapai 38,4% atau setara Rp 37,31 triliun. Dukungan UMKM mencapai 84,1% atau setara Rp 96,61 triliun, insentif usaha mencapai 36,7% atau Rp 44,29 triliun.

Selanjutnya, untuk klaster sektoral kementerian/lembaga (K/L) dan pemerintah daerah mencapai 53,6% atau Rp 35,33 triliun. Penyerapan yang paling rendah terjadi di pembiayaan korporasi yakni baru 3,2% atau Rp 2 triliun. Sementara penyerapan yang paling besar terjadi di klaster perlindungan sosial yang mencapai 82,4% atau Rp 193,07 triliun dari pagu.

"Perlindungan sosial yang paling tinggi karena program ini memang sudah sebelumnya walaupun ada beberapa penambahan. Beberapa program di sisi demand sebenarnya sudah terserap hampir 100% kita lihat ada PKH, bantuan beras dan Kartu Pra Kerja. Sementara memang dari sisi supply baru mulai tersalur pada November terutama subsidi bantuan gaji yang kita berikan di pertengahan tahun," ucapnya.

Ubaidi menyebut pemerintah akan terus mempercepat proses penyerapan melalui perbaikan-perbaikan kebijakan sesuai dengan masing-masing klaster. Dia mengaku pemerintah akan mengakselerasi berbagai program yang baru didesain.

"Memang kita tinggal punya waktu 1,5 bulan efektif. Kita mencoba untuk mengakselerasi berbagai program baru yang didesain pada triwulan III-2020 mudah-mudahan ke sini nya sejalan dengan beberapa administrasi dan sebagainya sudah selesai," jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad pesimis realisasi PEN bisa terserap 100% sampai akhir tahun. Dengan melihat realisasi yang ada, dia memperkirakan hanya bisa terserap sekitar 67,8% sampai akhir tahun 2020.

"Kami perkirakan di 2020 tidak bisa terserap habis, kurang lebih hampir 67,8% dan ini menjadi catatan ketika semua berharap PEN bisa menyelesaikan pemulihan ekonomi," katanya.

(eds/eds)