Beda dengan AS, China Ogah Izinkan Boeing 737 Max Terbang Lagi

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 23 Nov 2020 14:40 WIB
Boeing 737 Max
Foto: CNN
Jakarta -

Boeing 737 Max telah mendapatkan izin terbang kembali di Amerika Serikat (AS), tbelum mendapatkan izin terbang dari China. Alasannya, negara itu memiliki kriteria sendiri dalam memberikan izin.

Administrasi Penerbangan Sipil China atau The Civil Aviation Administration of China (CAAC) mengatakan ada kriteria sendiri yang harus dipenuhi Boeing sebelum akhirnya China mengeluarkan izin. China sendiri adalah negara yang pertama kali menghentikan operasi 737 Max setelah dua peristiwa kecelakaan yang merenggut ratusan nyawa.

"Selama mereka memenuhi persyaratan, kami senang melihat mereka melanjutkan penerbangan. Tapi jika tidak, kami harus melakukan pemeriksaan ketat untuk memastikan keamanan," direktur CAAC, Feng Zhenglin bulan lalu, dikutip dari CNN, Senin (23/11/2020).

Selain itu, Boeing tetap harus mendapatkan persetujuan negara lain untuk beroperasi secara internasional. Persetujuan China tidak hanya tentang mengizinkan 737 Max terbang di wilayah udara China lagi. Bisnis Boeing di China juga telah anjlok akibat dampak perang dagang antara AS dan China.

Sebelum perang dagang, China adalah pasar besar bagi Boeing. Pada 2015 dan 2016, penjualan di China masing-masing menyumbang 13% dan 11% dari total pendapatan Boeing. Pada 2015, China adalah pasar ekspor terbesar Boeing, dan terbesar ketiga pada 2016.

Meski belum mendapatkan izin terbang untuk 737 Max, Boeing optimis penjualan pesawat akan bisa dilakukan di China sebab ekonomi China tahun ini tercatat pulih. Perusahaan berharap dapat menjual sekitar 8.600 pesawat baru di China selama 20 tahun ke depan. Penjualan itu diperkirakan senilai US$ 1,4 triliun.

"Boeing tetap terdorong untuk mengembangkan jejaknya di pasar penerbangan sipil China hanya untuk alasan ekonomi dan strategis," kata Alex Capri, peneliti di Hinrich Foundation.

Boeing mungkin menghadapi persaingan yang lebih kuat di China. Persaingannya dengan Airbus semakin kuat, terutama setelah Boeing dilanda krisis akibat dilarangnya pesawat 737 untuk terbang. Tahun lalu, beberapa minggu setelah China melarang Boeing 737 Max, Airbus mengumumkan kesepakatan untuk menjual 300 jet penumpang ke maskapai penerbangan China.

(zlf/zlf)