JCPenney Lolos dari Kebangkrutan

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 01 Des 2020 12:03 WIB
jcpenney
Foto: Dok. Reuters
Jakarta -

Ritel asal Amerika Serikat (AS) JCPenney berhasil keluar kebangkrutan pekan lalu saat musim belanja meningkat. Lolosnya JCPenney dari bangkrut setelah mendapatkan bantuan dari pemilik mal Simon Property Group (SPG) dan Brookfield Asset Management.

Dari bantuan itu perusahaan mendapatkan potongan utang, mengurangi jumlah toko menjadi di bawah 700 dari 846 toko, dan dapat menyelamatkan 60 ribu pekerja. Selain itu, ritel itu kini memiliki uang untuk mengiklankan lagi bisnisnya.

"Transaksi ini adalah bukti dari ribuan karyawan yang berdedikasi yang telah bekerja sangat keras selama beberapa bulan terakhir dalam keadaan sulit," kata CEO JCPenney Jill Soltau, dikutip dari CNN, Selasa (1/12/2020).

"Pelanggan kami adalah jantung dari JCPenney dan kami berharap dapat melayani mereka di bawah bendera JCPenney selama beberapa dekade mendatang," tambahnya.

Namun jumlah kasus COVID-19 di AS makin meningkat, pembatasan pun mulai terus diperketat yang memaksa sejumlah toko JCPenney banyak yang tutup.

Saingan utamanya, Walmart (WMT) dan Target (TGT) diketahui tetap buka karena mereka menjual bahan makanan dan dianggap penting, sedangkan JCPenney hanya akan menjual secara online jika toko terpaksa tutup. Hal itu akan menurunkan tingkat penjualan JCPenney.

Menurut JCPenney sejak 2011 tingkat penjualan online perusahaan tidak menghasilkan banyak uang tiap kuartalnya. Jadi ini adalah waktu yang sangat buruk dalam setahun bagi perusahaan. Tetapi para ahli industri mengatakan restrukturisasi akan memberi perusahaan waktu luang untuk mengatasi tantangan ini.

Perlu diketahui, Mei lalu JCPenney menyatakan bangkrut akibat dampak dari COVID-19. Tingkat utang yang tidak terjangkau, kesalahan perhitungan selama bertahun-tahun dan kesalahan oleh jajaran manajemen puncak yang terus berubah adalah beberapa alasan yang juga membuat perusahaan bangkrut. Kerugian bersih perusahaan sejak 2010 mencapai sekitar US$ 5 miliar.

(ara/ara)