RI Terlalu Bergantung ke China, Nggak Sehat Nih!

Tim detikcom - detikFinance
Senin, 07 Des 2020 14:04 WIB
File photo: A paramilitary police officer is seen silhouetted in front of flags. (Photo: REUTERS/Aly Song)
Foto: REUTERS/Aly Song
Jakarta -

Indonesia banyak berdagangan dengan banyak negara. Salah satu negara yang transaksi dagangnya paling besar dengan Indonesia adalah China.

Bahkan bisa dibilang RI sudah sangat tergantung dengan China. Kok bisa?

Sejak Donald Trump menjadi presiden Amerika Serikat (AS), kerentanan ekonomi dunia terkuak. Perang dagang AS-China yang membuat seluruh dunia terluka membuat kita sadar bahwa struktur ekonomi planet ini tidak seimbang.

Trump mulai menjadi penunggu Gedung Putih pada Januari 2017. Pendekatan America First dan Make America Great Again membuat sang presiden ke-45 ini menerapkan kebijakan yang agresif.

Eks pembawa acara reality show The Apprentice itu melihat, bahwa defisit perdagangan AS terlalu dalam. Pada Januari 2017, defisit neraca perdagangan AS mencapai US$ 42,92 miliar. Dari jumlah tersebut, AS paling tekor saat berdagang dengan China.

Untuk mengerem defisit neraca perdagangan itu, Trump memberlakukan bea masuk terhadap ribuan produk impor asal China. Selain bertujuan membatasi impor, kebijakan itu juga bermaksud mendorong perusahaan-perusahaan untuk membangun basis produksi di AS, agar tidak harus membayar bea masuk.

China tentu tidak terima diperlakukan begitu rupa. Beijing membalas dengan kebijakan serupa, pengenaan bea masuk terhadap ribuan produk made in the USA.

KLIK DI SINI UNTUK KE HALAMAN SELANJUTNYA

(ang/ang)