5 Fakta Cukai Rokok Naik 12,5%

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 10 Des 2020 20:30 WIB
Ilustrasi rokok
Foto: Dok. REUTERS/Christian Hartmann/Illustration
Jakarta -

Pemerintah telah menetapkan kenaikan cukai hasil tembakau alias cukai rokok pada 2021 mendatang. Menteri Keuangan Sri Mulyani indrawati mengungkapkan kenaikan cukai rokok secara rata-rata sebesar 12,5%.

Sri Mulyani menyebutkan alasan untuk menaikkan cukai rokok ini agar bisa menurunkan prevalensi merokok anak usia 10-18 tahun dari 9,1% menjadi 8,4% di 2024 sesuai dengan RPJMN.

Berikut fakta selanjutnya :

Cukai Naik Supaya Tidak Dapat Terbeli

Sri Mulyani mengungkapkan alasan lain kenaikan tarif cukai rokok ini agar rokok menjadi lebih mahal atau affordability indeksnya menjadi 13,7% hingga 14%. "Sehingga semakin tidak dapat terbeli," ujar dia.

Sri Mulyani mengatakan kebijakan ini dari sisi kesehatan diharapkan akan mengendalikan konsumsi rokok. Menurunkan prevalensi merokok terutama pada anak anak dan perempuan. Prevalensi merokok secara umum dari 33,8% jadi 33,2% pada 2021.

Rincian Besaran Kenaikan

Sigaret putih mesin Golongan I naik sebesar 18,4%.
Sigaret putih mesin Golongan 2A naik sebesar 16,5%.
Sigaret putih mesin Golongan 2B naik sebesar 18,1%.
Sigaret kretek mesin Golongan 1 naik sebesar 16,9%.
Sigaret kretek mesin Golongan 2A naik sebesar 13,8%.
Sigaret kretek mesin golongan 2B naik sebesar 15,4%.
Sigaret kretek tangan tidak berubah atau tidak naik.

Rokok Makin Mahal

Besaran harga jual eceran rokok di pasaran bakal berbeda-beda. Harganya akan disesuaikan dengan kenaikan tarif cukai dari masing-masing kelompok rokoknya.

Berdasarkan paparan Kementerian Keuangan, diketahui kenaikan tarif cukai rokok akan membuat harga Sigaret Kretek Mesin (SKM) naik dari Rp 455-740/batang menjadi Rp 525-865/batang. Demikian pula dengan, Sigaret Putih Mesin (SPM) naik dari Rp 470-790/batang menjadi Rp 555-935/batang.

Bikin Saham Perusahaan Rokok Anjlok

Dari data RTI, Kamis (10/12/2020), semua harga saham emiten rokok langsung turun usai pengumuman tersebut. Penurunan terjadi sejak sesi II dimulai hingga akhir perdagangan sore ini.

Gudang Garam Tbk (GGRM) misalnya yang tadinya naik 1.800 (3,78%) pada sesi I, sore ini langsung anjlok 3.325 poin (6,9%) ke level 4.4275. Saham GGRM diperdagangkan 13.439 kali dengan nilai Rp 450 miliar.

Sementara Bentoel International Inv. Tbk (RMBA) sore ini parkir di level 370 atau terkoreksi 4 poin (1%). Saham RMBA sepanjang hari ini bergerak di level 374-388.

Berlaku Efektif Februari 2021

Cukai hasil tembakau atau cukai rokok 2021 naik 12,5%. Kebijakan ini akan efektif berlaku pada Februari 2021. "Kebijakan cukai hasil tembakau yang saya sampaikan akan berlaku efektif Februari 2021," ujar Sri Mulyani Indrawati.

Alasannya, kata Sri Mulyani, bea cukai dan industri butuh waktu sekitar 2 bulan untuk melakukan sosialisasi dan implementasi dari kebijakan tersebut.

(kil/zlf)