Stok Menipis, Pemerintah Diminta Segera Bahas Keperluan Gula Rafinasi

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 14 Des 2020 13:41 WIB
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian bersama Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol M Iqbal menunjukkan gula rafinasi di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (24/5/2015). polisi menyita barang bukti berupa 60 ton gula rafinasi, alat mesin jahit karung, 1 unit timbangan duduk, 5 buah pipa untuk cek isi karung, 1 buah serokan, 5 buah takaran, 24 lembar karung kosong, 2 unit truk tronton yang mengangkut gula rafinasi dan surat jalan. Agung Pambudhy/detikcom.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman meminta, pemerintah segera membahas rencana impor gula mentah untuk memenuhi kebutuhan industri rafinasi pada 2021. Hal ini disampaikan Adhi lantaran kondisi stok untuk industri sudah mulai menipis dan bakal habis di Januari 2020 mendatang.

"Kami mendapat informasi dari pemasok yang mana itu anggota, mereka bilang stok tipis sekali dan diperkirakan awal Januari dan akhir Januari habis," kata Adhi dalam keterangannya, Senin (14/12/2020).

Selain itu, permintaan ini karena mereka tidak bisa mengimpor dari Thailand. Meliankan harus mengimpor dari Brazil yang letaknya lebih jauh. Menurut dia, waktu impor dari Thailand hanya perlu waktu 2-3 minggu, sedangkan dari Brazil perlu waktu sampai dua bulan. Sedangkan dari Australia harganya lebih mahal.

"Mereka informasikan harus mengambil remetorial agak jauh ke Brazil karena informasinya dari Thailand ada gagal panen sebagian. Sehingga perjalanan dari Brazil jauh bisa 1,5 sampai 2 bulan," kata dia.

Dengan demikian, Adhi meminta Pemerintah untuk dapat segera berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait agar persetujuan impor gula untuk kebutuhan industri dapat segera diterbitkan.

"Memang Kemendag sudah melakukan kewajiban untuk mengeluarkan izin impor tahun 2020 karena sudah penuh sesuai rakortas. tapi 2021 belum dilakukan rakortas. Nah ini yang kami minta agar rakortas dipercepat supaya bisa segera diberikan izinnya," kata dia.

Setelah diputuskan dalam Rakostas itu, kata dia, tentu pihaknya akan berkoordinasi dengan negara tujuan impor untuk melakukan negosiasi. Ini dilakukan agar gula rafinasi untuk industri tidak terjadi kelangkaan.

"Kalau sudah ada persetujuan mereka akan bernegosiasi dengan Australia atau Brazil," kata dia.

Dalam kesempatan ini dia mengatakan, stok saat ini masih ada 350 ribu ton. "Kalau dipakai Desember 270 ribu ton kan sisa 80 ribu ton sisa di Januari. Berarti Januari kurang 170 ton, nah ini yang belum tahu apakah Australi bisa atau tidak. Tapi mereka menunggu kepastian izin yang itu yang kami tunggu rakortasnya," kata dia.

"Totalnya kami perkirakan tahun 2021 3,4-3,5 juta ton. perkiraan kami naik 5 persen dari 3,2 juta ton," ujar dia.'

Sementara Juru Bicara Menteri Perdagangan, Indrasari Wisnu Wardhana mengatakan, pihaknya akan segera membahas rencana impor gula mentah untuk memenuhi kebutuhan industri rafinasi pada 2021.

"Diharapkan hari ini ada rapat koordinasi untuk membahas alokasi impor industri mamin," ujar dia.

Setelah rakortas dilakukan, pihaknya akan langsung memberikan izin impor gula tersebut. Sebab, sudah menjadi kewajiban dari Kemendag memberikan izin apabila sudah disetujui dalam rapat koordinasi yang dipimpin sekelas menteri koordinator.

"Jadi walaupun kewenangan ekspor-impor ada di Kementerian Perdagangan, tetapi untuk alokasi itu dibahas bersama antar kementerian di rakortas. Setelah itu baru izinnya dikeluarkan Kemendag," kata Wisnu.

(fdl/fdl)