Kisah Pejudi Insyaf, Kini Jadi Petani Mente Beromzet Rp 20 Juta/Bulan

Inkana Putri - detikFinance
Minggu, 20 Des 2020 14:48 WIB
Arnoldus Iku (29), melakukan panen mete di kebunnya Kabupaten Malaka, NTT. Menjadi petani sejak 2011 lalu, kini Arnoldus bisa memanen mete seberat 1,5 ton.
Foto: Grandyos Zafna
Malaka -

Judi memang bisa bikin candu, apalagi jika sudah menang berkali-kali. Namun kalah judi pun tetap bisa bikin ketagihan. Mengingat rasa penasaran untuk menang sering sekali muncul saat berjudi. Di daerah Nusa Tenggara Timur, bola guling atau bola gelinding menjadi salah satu jenis judi yang terpopuler.

Seperti namanya, judi bola guling dimainkan dengan menggunakan bola dan media kertas atau papan berisikan angka 1-12 dengan warna yang berbeda-beda. Singkatnya, pemain harus menebak angka yang akan keluar. Namun, untuk memenangkan permainan bola guling tentunya perlu trik dan pemahaman khusus.

Sama halnya dengan jenis judi lainnya, bola guling juga seakan memberikan candu bagi pria asal Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, Arnoldus Iku (30). Ia menyebut dirinya sempat kecanduan bermain bola guling. Awalnya ia menyebut hanya coba-coba, tapi lama-lama jadi ketagihan, bahkan hingga menghabiskan Rp 65 juta dalam sebulan.

"Saya judi keras, tahun lalu saya habiskan Rp 65 juta sebelum saya kredit di BRI. Itu dalam satu bulan saya habiskan segitu untuk main bola guling," ujarnya kepada detikcom baru-baru ini.

Arnoldus Iku (29), melakukan panen mete di kebunnya Kabupaten Malaka, NTT. Menjadi petani sejak 2011 lalu, kini Arnoldus bisa memanen mete seberat 1,5 ton.Arnoldus Iku (29), melakukan panen mete di kebunnya Kabupaten Malaka, NTT. Menjadi petani sejak 2011 lalu, kini Arnoldus bisa memanen mete seberat 1,5 ton. Foto: Grandyos Zafna

Sayangnya, modal judi Rp 65 juta yang ia pinjam dari keluarga tak memberi hasil apapun. Arnold mengaku rugi dari bermain judi dan lebih memilih tobat. Meskipun banyak temannya yang mengajaknya kembali berjudi, ia langsung menolaknya.

"Tapi sekarang no. Kalau ada yang ngomong judi saya bilang ah judi besar saya sudah pernah, jadi tidak bagus. Lebih baik keringat keluar biar cuma Rp 1.000 tapi sangat berharga. Kalau main judi kita cuma duduk pangku kaki. Sebentar terima (duit), sebentar keluar lagi. Biar kita menang belasan juta ini uang akan habis. Modal Rp 65 juta saya rugi nggak dapat apa-apa makanya saya langsung tobat," paparnya.

Rugi judi ditambah terhimpit pandemi, Arnold pun akhirnya memilih untuk melanjutkan kembali usaha mentenya. Sebelum menjalankan jual beli mente, Arnold mengatakan dirinya dulu hanya menjual hasil kebun miliknya saja.

Mengingat waktu itu ia belum memiliki mobil atau motor untuk menjual mente dalam jumlah banyak. Ditambah jarak Malaka ke Atambua berkisar antara 2,5-3 jam lamanya.

"Sebelum saya beli mobil, dulu belum punya motor juga, belum bisa kerja hasil. Karena kita mau beli hasil (mente) kan harus pikul dulu, apalagi jaraknya jauh. Jadi, harus pikul mente kan tidak mungkin. Saya kumpulkan duit untuk beli motor, baru saya jalankan hasil," katanya.

Arnoldus Iku (29), melakukan panen mete di kebunnya Kabupaten Malaka, NTT. Menjadi petani sejak 2011 lalu, kini Arnoldus bisa memanen mete seberat 1,5 ton.Arnoldus Iku (29), melakukan panen mete di kebunnya Kabupaten Malaka, NTT. Menjadi petani sejak 2011 lalu, kini Arnoldus bisa memanen mete seberat 1,5 ton. Foto: Grandyos Zafna

Arnold bercerita ia telah memulai usaha jual beli mente sejak tahun 2011 hingga sekarang. Dari kebun mente seluas 1 hektare dalam waktu tiga bulan ia bisa panen sebanyak 1,5 ton.

Selain memanen mente hasil kebun sendiri, Arnold menjelaskan dirinya juga membeli hasil mente milik warga sekitar atau bisa dibilang sebagai pengepul mente. Dari hasil kebun miliknya dan beli mente di warga sekitar, Arnold menjual mente-mente tersebut ke Atambua dan Atapupu.

"Ya kalau satu hektar dalam waktu tiga bulan itu bisa (panen) 1,5 ton. Hasil kebunnya di jual ke Atapupu dengan Atambua. Mentenya hanya dijual saja bijinya karena buahnya belum ada yang beli," katanya.

Dari hasil jual beli mente, Arnold menjelaskan dirinya mendapat keuntungan Rp 1.000 untuk setiap kilogram mente. Adapun dari jual beli mente setiap harinya ia bisa untung bersih sekitar Rp 1.200.000.

"Omzet dari mente tiap kami beli contohnya dengan harga Rp 13.000, kami jual dengan harga Rp 14.000, jadi untungnya Rp 1.000. Keuntungannya jadi tiap kali antar karena (pakai) oto kecil paling dapat bersihnya itu Rp 1.200.000 untuk setiap hari. Jadi, satu bulan itu ya omzetnya sekitar Rp 20 jutaan, tapi kan ada pengeluaran bahan bakar, makan minum," katanya.

Melihat harga mente semakin bagus, Arnold pun memutuskan untuk mengembangkan usaha jual beli mente. Arnold yang awalnya menjual mente menggunakan motor sebanyak 200 kg setiap harinya, akhirnya mengajukan pinjaman modal ke BRI untuk membeli mobil. Dengan begitu, setidaknya ia bisa menjual mente minimal 500 hingga 600 kg setiap harinya.

"Saya waktu itu ambil pinjaman di BRI dari bulan April 2020 untuk membantu saya menjual belikan hasil mente di Desa Babulu Selatan ini. Pinjaman BRI sebesar Rp 100 juta. Uang itu sebagian saya beli empat roda (mobil), bantu-bantu kios, dan juga untuk jual beli hasil mente," katanya.

Arnoldus Iku (29), melakukan panen mete di kebunnya Kabupaten Malaka, NTT. Menjadi petani sejak 2011 lalu, kini Arnoldus bisa memanen mete seberat 1,5 ton.Arnoldus Iku (29), melakukan panen mete di kebunnya Kabupaten Malaka, NTT. Menjadi petani sejak 2011 lalu, kini Arnoldus bisa memanen mete seberat 1,5 ton. Foto: Grandyos Zafna

Ke depan, Arnold berencana ingin kembali mengambil pinjaman dari BRI untuk usaha lainnya. Salah satunya untuk mengembangkan kios sembako istrinya.

"Rencananya (masa pinjaman) ini habis, bakal ambil dari ini lagi. Tapi untuk usaha yang lain, tapi usaha mente tetap jalan hanya pokoknya ada tambahan usaha. Supaya kita bisa mengembalikan modal dari BRI kita harus kelola sebagian untuk kios dan sebagian untuk bisnis hasil (mente)," pungkasnya.

Di ulang tahun yang ke-125 pada tahun ini, BRI hadir di perbatasan dengan tema BRILian memudahkan masyarakat melakukan transaksi perbankan, termasuk bagi masyarakat Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka. BRI juga menghadirkan KUR hingga menyalurkan BPUM untuk membantu UMKM sekitar.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus beritanya di tapalbatas.detik.com.



Simak Video "Buka Seminggu Sekali, Pedagang Sembako Untung Rp 3 Juta Sehari"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/zlf)