Tekor APBN RI Makin Dalam, Sri Mulyani: Situasi Nggak Mudah

Hendra Kusuma - detikFinance
Selasa, 22 Des 2020 14:32 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Kondisi APBN Indonesia mengalami tekor alias defisit yang sangat dalam di tengah pandemi COVID-19. Pelebaran defisit sejatinya tidak hanya dialami oleh Indonesia melainkan seluruh negara di dunia yang terdampak Corona.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan alasan pemerintah menutup defisit APBN dengan utang atau pembiayaan di tengah pandemi COVID-19. Menurut Sri Mulyani, ada dua penyebab yang membuat tekor APBN melebar.

"Bahwa kondisi yang kita hadapi penggunaan instrumen fiskal adalah merupakan keniscayaan, bahwa semua negara situasi nggak mudah," kata Sri Mulyani dalam acara Outlook Perekonomian: Meraih Peluang Pemulihan Ekonomi di 2021, Selasa (22/12/2020).

Penyebab pertama pelebaran defisit APBN, kata Sri Mulyani adalah setoran pajak suatu negara yang menurun drastis. Semenjak COVID-19, banyak aktivitas perusahaan yang terdampak akibat pembatasan sosial atau lockdown yang diimplementasikan untuk memutus rantai penyebaran.

Di satu sisi, pemerintah harus meningkatkan anggaran belanja untuk membantu banyak sektor yang terdampak COVID-19. Selisih antara setoran dan kebutuhan belanja negara ini ditutupi dengan utang atau pembiayaan.

Dengan begitu, defisit APBN semakin melebar dari posisi sebelum ada pandemi Corona. Indonesia sendiri melebarkan defisit APBN ke level 6,34% atau setara Rp 1.093,2 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka itu naik drastis dari yang sebelumnya ditetapkan 1,76% terhadap PDB.

"Pembayar pajak hadapi kondisi tidak mudah, sebabkan penerimaan negara turun, di sisi lain kebutan belanja naik. Kalau ditanyakan pembiayaan dari mana, defisit dari 1,76% dari PDB, menjadi sekarang 6,3% dari PDB, Rp 307,2 triliun desain awal tahun, sekarang Rp 1.039 triliun," ungkapnya.

(hek/eds)