Harga Kedelai Tembus Rp 9.500/Kg, Pengusaha Tahu-Tempe Keblinger

Vadhia Lidyana - detikFinance
Sabtu, 02 Jan 2021 21:00 WIB
Perajin pembuat tempe mengolah kacang kedelai dalam proses pembuatan tempe di pabrik rumahan, Sunter Jaya, Jakarta Utara, Selasa (31/7). Menurut perajin tempe, menjelang Asian Games mereka mengeluhkan peraturan pemprov DKI Jakarta yang mengharuskan mereka harus berhenti produksi saat Asian Games 2018 di Jakarta dimulai, karena perajin tempe diduga menjadi penyebab utama pencemaran kali item.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Harga kedelai mengalami lonjakan drastis selama pandemi virus Corona (COVID-19), dari kisaran Rp 6.100-6.500 per kilogram (Kg) per Maret-April 2020 lalu, kini menjadi sekitar Rp 9.500/Kg. Sayangnya, meski harga kedelai naik, para produsen atau perajin tahu-tempe kesulitan menaikkan harga jual di pasar.

"Untuk itu perajin tempe tahu ingin menaikkan harga. Di masa pandemi ini semua kan susah," kata Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin kepada detikcom, Sabtu (2/1/2021).

Sulitnya menaikkan harga jual tahu dan tempe di tengah tingginya harga bahan baku membuat para perajin sepakat setop produksi selama 3 hari, dimulai sejak 1 Januari kemarin, sampai 3 Januari besok.

Hal itu pun tertuang dalam Surat Edaran Gakoptindo nomor 190/E-Gakoptindo/XII/2020. Dalam surat itu, tertuang juga keputusan para perajin tahu-tempe di sejumlah daerah untuk menghentikan produksi selama 3 hari.

"Daerah yang berhenti produksi semua, hampir seluruh Indonesia. Karena kenaikannya (kedelai) di seluruh Indonesia. Naik semua, di NTB (Nusa Tenggara Barat), Kalimantan, Sumatera itu naik," ujar Aip.

Ia menjelaskan, sebelumnya para produsen sudah berupaya menaikkan harga jual tahu-tempe secara individual ketika dijual ke pedagang pasar atau ke konsumen langsung. Namun, praktiknya di lapangan tak berjalan mulus.

"Hubungan kami, perajin dengan pedagang pasar itu sudah puluhan tahun, jadi sudah seperti saudara. Dan ketika mau menaikkan itu susah karena mereka keberatan, apalagi melihat kondisi ekonomi lagi susah. Jadi mau menaikkan sendiri-sendiri kan susah, akhirnya kita sepakat kita berhenti dulu produksi," tutur dia.