RI Pernah Swasembada Kedelai di Zaman Orba, Kok Sekarang Impor?

Trio Hamdani - detikFinance
Minggu, 10 Jan 2021 13:30 WIB
Cabai rawit merah-kedelai kini jadi barang mahal di Pasar Induk Kajen. Harga keduanya bertahan sejak sebulan terakhir, bahkan cenderung naik mendekati nataru.
Foto: Robby Bernardi/Detikcom
Jakarta -

Hilangnya tempe di pasaran hingga tukang gorengan beberapa waktu lalu bikin heboh. Hal itu sekaligus menjadi teguran terhadap Indonesia yang masih doyan impor kedelai.

Langkanya komoditas pangan tersebut beberapa waktu lalu memang dipengaruhi oleh kedelai impor sebagai bahan baku tempe yang harganya meroket. Itu membuat produsen atau perajin tempe mogok produksi.

Sebelum doyan impor, Indonesia rupanya pernah swasembada kedelai di zaman Orde Baru, tepatnya pada tahun 1992. Saat itu, luas panen kedelai di seluruh Indonesia mencapai 1,889 juta hektar sehingga produksi melimpah.

"Pada 1992 luas panen kedelai pernah sampai 1,889 juta hektar. Waktu itu nggak ada impor," kata eks Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Hasil Sembiring 27 Agustus 2015.

Sementara Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (Gakoptindo), Aip Syarifudin mengatakan produksi kedelai pada 1990-1992 mencapai 1,6-1,8 juta ton per tahun.

"Dulu produksi kedelai sempat mencapai 1,8 juta," sebutnya 24 Desember 2015.

Lantas, kapan Indonesia bisa kembali mengulang kejayaan swasembada kedelai? Menteri Pertanian (Mentan) Suswono periode 2009-2014 pernah mengatakan untuk bisa swasembada kedelai, Indonesia harus punya lahan 1,6 juta hektar seperti yang pernah terjadi pada 1992.

"Ya kembali, ketika apa luas lahan panennya kita bisa mendekati ketika di angka seperti 1992, artinya ini akan tumbuh dengan sendirinya, dengan peningkatan dengan adanya kepastian yang menguntungkan petani, saya jamin petani akan kembali bergairah menanam kedelai," katanya 16 September 2013.

Menurutnya, kegairahan petani harus diimbangi dengan tambahan lahan baru kedelai. Jika ini tidak dilakukan maka akan berdampak pada penurunan produksi jagung karena terjadi pengalihan produksi dari jagung ke kedelai.

"Artinya kalau kedelai menggairahkan, larinya kedelai, jagungnya turun, otomatis tambahan areal baru itu penting, dan kita harapkan mudah-mudahan daerah-daerah potensial pengembangan seperti di delta kayan di bulungan itu potensinya cukup bagus, kita sebenarnya Merauke itu bisa segera," tandasnya.

Di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kementerian Pertanian (Kementan) sebenarnya sudah ditugaskan mencapai swasembada pangan beberapa komoditas di 2017. Komoditas utama yang jadi prioritas adalah beras, jagung, kedelai, dan daging.

Namun, eks Dirjen Tanaman Pangan Kementan Hasil Sembiring saat masih menjabat pernah mengatakan dari berbagai komoditas pangan tersebut, salah satu yang terberat dicapai adalah kedelai.

Alasannya, dalam kurun waktu 23 tahun area tanam kedelai susut 60% dari 1,8 juta hektar jadi 700.000 hektar. Penyebabnya karena petani selalu rugi dengan harga jual.

"Jadi tekad 2017 memang menjadi berat untuk swasembada pangan khususnya kedelai," katanya 22 September 2015.

Sayangnya target tersebut gagal tercapai. Lalu, eks Direktur Perlindungan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), Dwi Iswari waktu menjabat mengatakan swasembada kedelai baru bisa dilakukan 2020.

"Sampai 2 tahun ini atau sampai tahun depan baru bisa fokus. Posisinya kedelai masih sangat sulit, baru bisa swasembada targetnya tahun 2020," ucapnya 15 Desember 2016.

Lagi-lagi target tersebut belum bisa dicapai hingga tutup tahun 2020. Semoga saja kelak Indonesia bisa mengulang kejayaan di mana tak ketergantungan impor kedelai.

(toy/zlf)