China Dominasi Neraca Dagang RI Selama 2020

Hendra Kusuma - detikFinance
Jumat, 15 Jan 2021 12:27 WIB
Kesibukan pelayanan bongkar muat di dermaga peti kemas ekspor impor (ocean going) milik PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II dipastikan tetap berjalan maksimal di tengah persiapan menyambut kunjungan Ratu Kerajaan Denmark Margrethe II bersama suaminya, Prince Henrik , Jakarta, Kamis (15/10/2015). Ratu Margrethe II dan Price Henrik akan berkunjung ke lokasi ini pada pekan depan, Kamis (22/10). Seperti diketahui Maersk Line, salah satu perusahaan pelayaran terbesar di dunia asal Denmark saat ini menjadi pengguna utama Pelabuhan yang dikelola Pelindo II. Kehadiran Ratu Denmark menunjukkan kepercayaan negara asing terhadap kualitas pelayanan pelabuhan di Indonesia. Dalam satu tahun kapasitas pelayanan bongkar muat Pelindo II mencapai 7,5 juta twenty-foot equivalent units (TEUs). Agung Pambudhy/Detikcom
Foto: agung pambudhy
Jakarta -

Neraca dagang Indonesia mengalami surplus US$ 21,74 miliar selama tahun 2020. Hal itu menyusul nilai ekspor lebih tinggi dibandingkan dengan impor. Total nilai ekspor tercatat US$ 163,31 miliar dan impor US$ 141,57 miliar.

Jika dilihat dari pangsa pasarnya, neraca perdagangan Indonesia didominasi oleh China baik dari ekspor maupun impor. Pada Desember 2020 sendiri, kinerja ekspor Indonesia tercatat US$ 16,54 miliar.

Tidak hanya terlihat dari bulanan, secara tahunan pun negeri Tirai Bambu mendominasi kinerja ekspor Indonesia. Selama Januari-Desember 2020, China tetap merupakan negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai US$ 29,93 miliar atau 19,31%. Diikuti oleh AS dengan nilai US$ 18,62 miliar atau 12,01%, dan Jepang dengan nilai US$ 12,88 miliar atau 8,31% dari total US$ 163,31 miliar.

Sementara untuk impor, jika dilihat selama periode Januari-Desember 2020, China masih menjadi tujuan utama dengan pangsa pasar 30,91% atau US$ 39,35 miliar dari total impor senilai US$ 141,57 miliar.

Untuk Desember 2020, dominasi China pun terlihat pada kinerja impor Indonesia, dari total nilai impor US$ 14,44 miliar di Desember 2020, dikatakan Suhariyanto pangsa pasar China sebesar US$ 4,44 miliar atau 34,28%. Kedua, tertuju ke Jepang dengan nilai US$ 0,86 miliar atau 6,65%. Ketiga adalah Singapura sebesar US$ 0,73 miliar atau 5,65%.

"Pangsa pasar ekspor non migas pada Desember tidak berubah. Ekspor utama tertuju ke Tiongkok di mana pada Desember share-nya adalah US$ 3,32 miliar atau 21,4% dari total ekspor," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto dalam video conference, Jumat (15/1/2021).

Pangsa pasar ekspor terbesar kedua, dikatakan Suhariyanto tertuju pada Amerika Serikat (AS) yaitu sebesar US$ 1,87 miliar atau 12,06%. Selanjutnya disusul oleh Jepang dengan nilai US$ 1,25 miliar atau 8,06% dari total ekspor di Desember 2020.

"Berdasarkan kawasan, ekspor kita ke Uni Eropa US$ 1,27 miliar atau 8,19%, sedangkan ASEAN kontribusinya 20,12% atau US$ 3,12 miliar," tambahnya.

Dominasi China pun terlihat pada kinerja impor Indonesia, dari total nilai impor US$ 14,44 miliar, dikatakan Suhariyanto pangsa pasar China sebesar US$ 4,44 miliar atau 34,28%. Kedua, tertuju ke Jepang dengan nilai US$ 0,86 miliar atau 6,65%. Ketiga adalah Singapura sebesar US$ 0,73 miliar atau 5,65%.

(hek/eds)