Neraca Dagang RI Surplus di 2020, Ini Datanya

Hendra Kusuma - detikFinance
Sabtu, 16 Jan 2021 09:30 WIB
Setelah beberapa bulan mengalami defisit alias tekor, pada Mei 2019 posisi neraca perdagangan berbalik menjadi surplus.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus di tahun 2020. Angka surplusnya tercatat sebesar US$ 21,74 miliar. Berdasarkan catatan BPS, surplus ini tertinggi neraca dagang ini sejak sembilan tahun lalu atau sejak 2011.

Neraca perdagangan Indonesia yang surplus dikarenakan total nilai ekspor lebih tinggi dibandingkan dengan impor. Sepanjang 2020, total nilai ekspor mencapai US$ 163,31 miliar dan impor sebesar US$ 141,57 miliar.

"Selama 2020, neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 21,74 miliar," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam video conference, Jumat (15/1/2021).

Kinerja ekspor di Desember 2020, dikatakan Suhariyanto menjadi yang paling tertinggi di tahun 2020. Bahkan, nilai ekspor US$ 16,54 miliar ini tertinggi sejak Desember 2013.

"Perkembangan ekspor ini sangat menggembirakan karena nilainya ini tertinggi selama 2020. Kalau melacak ke belakang, ekspor bulanan di Desember 2020 tertinggi sejak Desember 2013," kata Suhariyanto.

Sedangkan kinerja impor, Suhariyanto menyebut sebesar US$ 14,44 miliar atau naik 14% dibandingkan November 2020. Sementara dibandingkan Desember 2019, terjadi penurunan tipis yaitu 0,47%.

Dengan begitu, maka neraca perdagangan Indonesia secara bulanan mengalami surplus US$ 2,10 miliar. Sementara secara tahunan, terjadi surplus US$ 21,74 miliar selama tahun 2020.

Namun begitu, jika dilihat dari pangsa pasarnya, neraca perdagangan Indonesia didominasi oleh China baik dari ekspor maupun impor. Pada Desember 2020 sendiri, kinerja ekspor Indonesia tercatat US$ 16,54 miliar.

Tidak hanya terlihat dari bulanan, secara tahunan pun negeri Tirai Bambu mendominasi kinerja ekspor Indonesia. Selama Januari-Desember 2020, China tetap merupakan negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai US$ 29,93 miliar atau 19,31%. Diikuti oleh AS dengan nilai US$ 18,62 miliar atau 12,01%, dan Jepang dengan nilai US$ 12,88 miliar atau 8,31% dari total US$ 163,31 miliar.

Sementara untuk impor, jika dilihat selama periode Januari-Desember 2020, China masih menjadi tujuan utama dengan pangsa pasar 30,91% atau US$ 39,35 miliar dari total impor senilai US$ 141,57 miliar sepanjang tahun 2020.

(hek/fdl)