Importir Keberatan Jual Kedelai di Bawah Harga Pasar

Soraya Novika - detikFinance
Rabu, 20 Jan 2021 20:45 WIB
Seorang perajin tempe di kawasan Pasar Minggu Jakarta Selatan, Senin (26/8/2013) terlihat masih beraktifitas seperti biasa meski harga kedelai impor melonjak sangat tinggi. Harga kedelai import naik ke level tertinggi sejak Juni 2013 lalu. Sekitar hampir 90 persen kedelai kita yang digunakan untuk produksi tempe dan tahu adalah import. Para pengrajin tempe tahu menjerit dan bahkan hampir tak berproduksi. File/detikFoto.
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Ketua Asosiasi Importir Kedelai Indonesia (Akindo) Yus'an mewakili para importir mengaku keberatan bila harus menjual kedelai di bawah harga pasar. Sebagaimana diketahui, sejak 7 Januari 2021 lalu ada permintaan operasi pasar dari Kementerian Pertanian.

Dengan adanya operasi pasar tersebut, importir diminta menjual kedelai ke pengrajin seharga Rp 8.500/Kg. Padahal harga beli importir saat ini bisa mencapai Rp 9.500/Kg, melebihi permintaan Kementan tersebut.

"Sebenarnya keberatan para importir ini ditetapkan harganya yang tidak masuk akal," ujar Yus'an dalam RDPU dengan Komisi IV DPR RI, Rabu (20/1/2021).

Yus'an menegaskan tidak pernah mengotak-atik harga jual kedelainya ke perajin tahu-tempe. Sebab, harga kedelai internasional sebenarnya sudah sangat transparan dan bisa dicek dan dihitung sendiri oleh siapapun. Harga yang dipampang pun sudah termasuk pajak dan lainnya.

"Harga dari Amerika itu transparan sekali beda dari bawang putih barang tiap negara itu beda, tapi dari US itu harga hari ini pun bisa dimonitor dan bisa dihitung di dalam negeri, jadi pedagang itu semuanya transparan," terangnya.

Maka tak heran, saat diajak operasi pasar hanya 2 importir saja yang menyanggupi permintaan tersebut. Selebihnya memilih absen.

"Jadi sepihak dari (Kementerian) pertanian, dipaksa sehingga mana mau datang, tidak ada kan yang hadir," tambahnya.

Operasi pasar itu rencananya akan terus berjalan selama 100 hari pertama di 2021. Pasalnya, harga kedelai di pasar internasional memang tinggi, dan biaya distribusinya juga tinggi disebabkan oleh lamanya proses pengangkutan di pelabuhan-pelabuhan transit selama pandemi.

(eds/eds)