Ini yang Bikin Kontraksi Ekonomi RI Tak Separah Negara Lain

Hendra Kusuma - detikFinance
Sabtu, 06 Feb 2021 12:00 WIB
Pertumbuhan ekonomi
Ilustrasi/Foto: Tim Infografis: Andhika Akbarayansyah
Jakarta -

Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan menilai konsumsi pemerintah menjadi sentral pemulihan ekonomi Indonesia di tahun 2020. Realisasi pertumbuhan ekonomi nasional minus 2,07% di sepanjang tahun lalu, hanya saja konsumsi pemerintah menjadi satu-satunya komponen pengeluaran yang tumbuh positif.

Kepala BKF Febrio Kacaribu mengatakan kinerja konsumsi pemerintah tumbuh 1,8% di kuartal IV-2020 atau secara kumulatif atau sepanjang tahun lalu tumbuh 1,9%.

"Peran konsumsi pemerintah tetap hadir sebagai sentral pemulihan," kata Febrio dalam keterangan resminya yang dikutip Sabtu (6/2/2021).

Dilihat dari komponen pengeluaran, sebetulnya konsumsi rumah tangga dan investasi masih menjadi kontributor terbesar dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi nasional. Kontribusinya mencapai 89,40% terhadap PDB.

Untuk realisasinya, konsumsi rumah tangga tumbuh minus 3,6% di kuartal IV-2020 atau lebih baik dibandingkan kuartal III dan kuartal II yang masing-masing minus 4,0% dan minus 5,5%. Sedangkan sepanjang 2020, konsumsi rumah tangga minus 2,6%.

Febrio mengatakan, tumbuhnya konsumsi rumah tangga dikarenakan program bantuan sosial (bansos) yang disalurkan pemerintah kepada masyarakat terdampak pandemi COVID-19.

"Tingkat kepercayaan masyarakat dalam beraktivitas terus membaik ditunjukkan oleh indikator keyakinan konsumen yang meningkat dibanding triwulan sebelumnya," ujarnya.

Komponen investasi atau pembentukan modal tetap bruto (PMTB) juga mengalami perbaikan dari minus 6,5% di kuartal III menjadi minus 6,2% di kuartal IV-2020. Febrio menyebut, kontribusi APBN juga turut mendukung perbaikan komponen investasi melalui belanja pemerintah yang realisasinya mencapai 137,5% dari total pagu.

Komponen ekspor juga relatif membaik dari minus 11,7% di kuartal III menjadi minus 7,2% di kuartal IV-2020. Perbaikan ini didukung oleh kinerja ekspor produk-produk unggulan seperti CPO dan batubara. Lalu, permintaan atas komoditas tersebut meningkat seiring adanya pemulihan ekonomi dari negara mitra dagang utama Indonesia.

Sementara komponen ekspor, kinerjanya juga mengalami perbaikan dari minus 23,0% di kuartal III menjadi minus 13,5% di kuartal IV-2020. Menurut Febrio, perbaikan ini sejalan dengan indikator purchasing manager index (PMI) Indonesia yang terus ekspansi.

Sedangkan konsumsi pemerintah menjadi sentral pemulihan ekonomi karena berhasil tumbuh 1,9% di tahun 2020. Febrio mengatakan, pertumbuhan ini didukung oleh pelaksanaan APBN yang ekspansif dengan defisit sebesar 6,1% terhadap PDB dan pertumbuhan belanja negara yang mencapai 12,2% di tahun lalu.

"Hal ini terlihat pada akselerasi pelaksanaan program PEN yang berkontribusi tidak hanya pada konsumsi pemerintah tetapi juga memberi dukungan langsung kepada konsumsi rumah tangga dan investasi," ungkapnya.

Simak Video: Penjelasan BPS Soal Ekonomi RI 2020 Terburuk Sejak Krismon 98

[Gambas:Video 20detik]



(hek/eds)