Pemasukan Iklan di Internet Diramal Kalahkan TV 10 Tahun Lagi

Vadhia Lidyana - detikFinance
Senin, 08 Feb 2021 11:17 WIB
facebook
Ilustrasi/Foto: thinkstock
Jakarta -

Kemajuan internet sangatlah pesat, apalagi dengan kehadiran platform-platform media sosial yang kini sudah mendominasi kehidupan masyarakat Indonesia. Hal itu pun mempengaruhi posisi media massa di dunia termasuk Indonesia. Misalnya saja media massa televisi (TV) yang sampai saat ini masih memegang peran sebagai penayang iklan terbanyak dibandingkan media lainnya.

Saat ini, TV mendominasi 72% distribusi iklan di Indonesia, sementara internet baru 24%. Presiden Direktur MNC Corporation Hary Tanoesoedibjo mengatakan, dalam 10 tahun ke depan peran TV di periklanan itu akan bergeser ke internet.

"Saya yakin 10 tahun mendatang bisa di atas 50%. Karena biaya di internet lebih murah, kemudian juga daya beli meningkat. Jadi lebih affordable, bisa di atas 50% dan televisi akan turun. Dan perlu digarisbawahi di sini bahwa 70-80% dari iklan berbasis internet itu didominasi oleh online asing," kata Hary konvensi Hari Pers Nasional 2021, Senin (8/2/2021).

Namun, dalam 2-3 tahun ke depan pun peran internet dalam mendistribusikan iklan akan semakin besar.

"Distribusi iklan di Indonesia selama pandemi maupun setelah pandemi, TV mendominasi 72%, internet 20%, dan lainnya sisanya 8%. Dan kita lihat internet cukup dominan. Dan kita lihat 2-3 tahun ke depan, tahun 2023 internet akan meningkat jadi 24%," ujarnya.

Tak hanya itu, selama ini kehadiran internet masih terus memberikan dampak kepada media massa baik online maupun elektronik, dan utamanya cetak. Menurut Hary, untuk menghadapi itu tak ada cara lain selain berpindah platform, atau melakukan ekspansi.

"Secara kesimpulan, jelas bahwa media cetak sekarang mengalami sunset yang tidak mungkin berdiri sendiri untuk dilanjutkan. Kita lihat media online meningkat, sehingga mau tidak mau media cetak harus migrasi, atau ekspansi ke online baik bisa dalam bentuk e-paper atau extended version yang lebih luas basis kontennya. Jadi dari sisi industri, bagaimana kita menghadapi online terhadap aggregator yang tadi telah disampaikan, termasuk search engine," tutup dia.

(vdl/eds)