Sri Mulyani: Teknologi Digital Berpotensi Memecah Belah Masyarakat

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 18 Feb 2021 12:25 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani, Blak-blakan dengan detik.com, Rabu (24/4/2019)
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pandemi COVID-19, perubahan iklim, dan teknologi menjadi tantangan bagi seluruh negara di dunia untuk mencapai pertumbuhan berkelanjutan. Ketiga tantangan tersebut dinilai lebih dirasakan oleh masyarakat miskin.

Demikian disampaikannya dalam webinar bertajuk 'Infrastructure, Technology, and Finance for Sustainable and Inclusive Development in Asia'. Teknologi misalnya, secara nyata telah memperlebar kesenjangan antara si kaya dan si miskin.

"Teknologi digital ini berpotensi dapat memecah belah masyarakat di mana mereka yang memiliki aksesibilitas bisa menjadi lebih produktif dan memanfaatkan teknologi. Bagi yang tidak punya akses, mereka ditinggalkan. Jadi pandemi, perubahan iklim, dan teknologi bisa menjadi ancaman bagi pertumbuhan inklusif dan pembangunan berkelanjutan," kata dia, Kamis (18/2/2021).

Berdasarkan catatannya, sekitar 20 ribu desa di Indonesia belum terkoneksi internet sehingga kegiatan belajar mengajar, pelayanan kesehatan yang saat ini banyak memanfaatkan teknologi berbasis dalam jaringan (daring) tidak bisa dilakukan. Untuk itu, pembangunan infrastruktur TIK menjadi penting dilakukan pemerintah.

"Bagi pemerintah Indonesia, masalah ini yang kita hadapi sekarang adalah dengan berpose membangun infrastruktur khususnya TIK untuk memastikan konektivitas dapat terjalin. Karena ini bukan lagi pilihan, ini merupakan syarat mutlak bagi Indonesia untuk dapat berkembang secara inklusif dan berkeadilan," ucap Sri Mulyani.

Kesenjangan dari sisi ekonomi suatu negara juga melebar karena munculnya pandemi. Masyarakat miskin dinilai menjadi yang paling menderita karena tidak bisa menyesuaikan kondisi tersebut dengan alasan keterbatasan teknologi tadi.

"Kita semua tahu pandemi ini benar-benar membuat kebiasaan kita berubah, di semua negara. Semua perusahaan telah diubah menjadi digital dan bekerja dari rumah, jam kerja fleksibel. Tapi bisa dibayangkan untuk Indonesia yang tidak memiliki atau menikmati kualitas infrastruktur baik seperti Jakarta," tuturnya.

Begitu juga dengan perubahan iklim. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu meyakini dampak dari isu global itu lebih besar dirasakan oleh negara atau masyarakat miskin.

"Perubahan iklim memiliki implikasi berbeda bagi negara miskin, dan masyarakat miskin. Mereka lebih menderita," kata Sri Mulyani.

(aid/eds)