Mulai Landai, Restrukturisasi Kredit Bank Nyaris Rp 1.000 T

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 26 Feb 2021 15:01 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat restrukturisasi kredit perbankan sebesar Rp 987,48 triliun per 8 Februari 2021.

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan II OJK Bambang Widjanarko mengungkapkan sejak Oktober 2020 restrukturisasi mulai melandai.

Bambang mengatakan mayoritas debitur yang melakukan restrukturisasi adalah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Dia menyampaikan sektor UMKM mencapai 6,2 juta debitur dengan nilai Rp 388,3 triliun. Kemudian untuk non UMKM mencapai 1,8 juta debitur dengan nilai Rp 599,15 triliun.

Sebelumnya, OJK menerbitkan Peraturan OJK Nomor 48 /POJK.03/2020 Tentang Perubahan Atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019.

POJK perpanjangan kebijakan stimulus Covid di sektor perbankan ini, dikeluarkan setelah mencermati perkembangan dampak ekonomi berkaitan penyebaran Covid-19 yang masih berlanjut secara global maupun domestik dan diperkirakan akan berdampak terhadap kinerja dan kapasitas debitur serta meningkatkan risiko kredit perbankan.

Dengan terbitnya POJK 48/POJK.03/2020 ini maka kebijakan stimulus restrukturisasi kredit akan berlaku sampai dengan 31 Maret 2022.

(kil/das)