Produksi Beras Periode Januari-April Diprediksi Capai 14,54 Juta Ton

Jihaan Khoirunnisaa - detikFinance
Selasa, 02 Mar 2021 17:55 WIB
Sejumlah petani memanen padi di Cikarang, Jawa Barat. Meski panen kali ini terbilang cukup, tapi para petani ini tetap menjerit. Kenapa?
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis angka tetap produksi padi di Indonesia, Senin (1/3) kemarin. Produksi padi tercatat mengalami kenaikan sebanyak 0,08% atau 45,17 ribu ton, dari yang semula 54,60 juta ton gabah kering giling (GKG) pada tahun 2019 menjadi 54,65 ton GKG di tahun 2020.

Apabila dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan, produksi beras di 2020 sebesar 31,33 juta ton. Naik sebanyak 21,46 ribu ton atau 0,07%, dibandingkan tahun 2019 yang sebesar 31,31 juta ton.

Terkait sebaran daerah sentra produksi beras, Kepala BPS Suhariyanto menyebut beberapa provinsi di Jawa seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur masih mendominasi. Berdasarkan data BPS, kinerja produksi padi relatif terjaga sepanjang 2020. Namun, ia mengatakan variasi produk antar-provinsi dan kabupaten/kota perlu menjadi perhatian.

Diungkapkan Suhariyanto, potensi produksi padi di Indonesia periode Januari-April 2021 diprediksi mencapai 14,54 juta ton beras atau mengalami kenaikan sebesar 3,08 juta ton (26,84%), dibandingkan produksi beras pada subround yang sama tahun lalu, yakni sebesar 11,46 juta ton.

Adapun potensi luas panen padi pada subround Januari-April 2021 tersebut mencapai 4,86 juta hektare atau naik sekitar 1,02 juta hektare (26,53%) dibandingkan subround Januari- April 2020 yang sebesar 3,84 juta hektare.

"Potensi Februari sampai April bisa berubah, namun potensi ini perlu diamati supaya kita bisa membuat perencanaan yang lebih baik. Setiap bulan akan kami update," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (2/3/2021).

Di tempat terpisah, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi merasa bersyukur atas pencapaian ini. Menurutnya, pencapaian peningkatan produksi beras tahun 2021 merupakan hasil dari strategi dan kebijakan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam membangun ketahanan pangan nasional.

Ia menilai upaya Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menjamin ketersediaan stok pangan utamanya produksi beras terbukti membawa hasil positif. Terkait penurunan luas panen, Suwandi menilai ada sederet hal yang menjadi faktor pemicunya, antara lain alih fungsi lahan serta perubahan preferensi komoditas. Meski demikian, kenaikan produksi menjadi bukti keberhasilan upaya peningkatan produktivitas.

"Bisa lewat perbaikan agroinput, mekanisasi dan penanganan pascapanen yang mampu menekan losses," tuturnya.

Suwandi berharap lewat penerapan teknologi benih, alsintan, dan manajemen korporasi mampu mendorong produktivitas serta memajukan sektor pertanian. Adapun beberapa program yang telah jalan tahun ini seperti korporasi petani, perluasan areal tanam baru, kostraling serta food estate.

"Semua bermuara di satu tujuan untuk meningkatkan produksi tanaman pangan serta mensejahterakan petani," pungkasnya.

(akn/hns)