Kabar Baik! Resesi Pendapatan Korporasi di AS Berakhir

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 05 Mar 2021 10:32 WIB
People wearing face masks walk by an electronic stock board of a securities firm in Tokyo, Monday, Aug. 3, 2020. Asian shares were mixed on Monday, as investors watched surging numbers of new coronavirus cases in the region, including in Japan. (AP Photo/Koji Sasahara)
Ilustrasi/Foto: AP/Koji Sasahara
Jakarta -

Pandemi Corona (COVID-19) telah menyebabkan ekonomi negara di dunia mengalami resesi. Hal itu tentu karena bisnis dan perusahaan di dalamnya mengalami resesi. Kini resesi sebagian besar perusahaan di Amerika Serikat (AS) disebut telah berakhir.

Dikutip dari CNN, Jumat (5/3/2021) dalam laporan kuartalan, 95% perusahaan AS telah melaporkan laporan keuangan untuk kuartal IV-2020. Menurut estimasi terbaru analis John Butters, indeks saham S&P 500 tumbuh 3,9% pada kuartal IV. Itu menandai peningkatan tahun ke tahun pertama sejak akhir 2019.

Berdasarkan laporan itu, CEO The Earnings Scout, Nick Raich mengatakan secara blak-blakan bahwa resesi pendapatan sudah berakhir.

Sebelumnya ekonomi AS tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 4,1% pada kuartal IV meningkat. Namun, itu masih menjadi perlambatan tajam dibandingkan pertumbuhan kuartal-III. Pendapatan AS pun diprediksi turun 11%.

Ada secercah harapan berkat pasar properti khususnya perumahan yang tengah berkembang pesat dan tingkat investasi bisnis yang sehat. Seperti perusahaan perumahan, Lowe's melaporkan pertumbuhan penjualannya sebesar 28% pada kuartal IV. Selain itu, ada penjualan Home Depot (HD) juga melonjak 25% dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski masih mengalami penurunan, sebagian perusahaan optimis dengan keadaan masa depan. Menurut FactSet, analis memproyeksikan pertumbuhan pendapatan dua digit untuk keempat kuartal tahun 2021.

"Prospek untuk 2021 cukup positif untuk mendorong peningkatan yang cukup besar dalam perkiraan. Mungkin pertanda pendapatan yang lebih baik di masa depan," kata ahli strategi Keuangan LPL Jeffrey Buchbinder.

Keyakinan pada pemulihan pendapatan perusahaan adalah salah satu alasan utama Wall Street berpikir saham dapat terus berkinerja kuat, bahkan ketika kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah memberi tekanan pada aset berisiko.

Ada beberapa faktor yang dapat menguntungkan perusahaan. Buchbinder mengatakan paket stimulus besar menjadi salah satu pendorong meningkatnya pendapatan perusahaan. Selain itu, dolar yang lebih lemah akan membantu perusahaan multinasional, meningkatkan nilai penjualan dan keuntungan internasional.

Tapi Buchbinder menunjukkan dua kemungkinan masalah. Pertama, pendapatan cenderung kurang dari perkiraan konsensus di sebagian besar tahun, meskipun tahun ini mungkin berbeda Kedua, COVID-19 masih membawa risiko.

(eds/eds)