Guru Besar IPB Nilai Kebijakan Impor Beras Harus Dipertimbangkan

Abu Ubaidillah - detikFinance
Jumat, 05 Mar 2021 22:07 WIB
rice
Foto: iStock-ilustrasi
Jakarta -

Guru Besar IPB, Profesor Muhammad Firdaus berpendapat kebijakan impor 1 juta beras dalam memenuhi cadangan beras nasional agar dapat dipertimbangkan kembali. Menurutnya kebijakan itu harus dipikir matang mengingat saat ini para petani tengah menghadapi musim panen yang akan berlangsung beberapa bulan ke depan.

"Kalau kita mengimpor apalagi dalam volume yang cukup besar seperti 1 juta ton, maka harus betul-betul dipertimbangkan dengan matang," kata Firdaus dalam keterangan tertulis, Jumat (5/3/2021).

Firdaus berpendapat impor beras dalam jumlah besar akan dapat mengganggu beban mental para petani dan pelaku usahalainya yang kini tengah berjuang meningkatkan produksi dalam negeri.

"Kebijakan impor harus didasarkan pada data yang akurat. Dan sebuah data itu tidak bisa disediakan oleh satu pihak saja. Namun harus melibatkan data lain dan mengacu pada data yang benar. Kebijakan impor itu harus mengacu pada data yang valid," jelasnya.

Diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis adanya potensi peningkatan produksi padi pada tahun 2021 sebesar 4,86 juta hektare atau naik 26,56% dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan terjadi karena panen raya di awal tahun, terutama di sejumlah daerah terus menunjukan tren positif.

Menurut data BPS, pergerakan produksi beras tahun 2020 mencapai 54,65 juta ton. Angka ini lebih tinggi dari angka tahun 2019 yang hanya mencapai 54,60 juta ton. Total luasan panen pada tahun 2020 mencapai 10,66 juta hektare dengan total produksi padi mencapai 54,65 juta ton (gabah kering giling).

Bila dilihat menurutsubround, produksi padi periode Mei-Agustus 2020 meningkat 1,14 juta ton gabah kering atau 6,04%. Sedangkan untuk periode September-Desember 2020 meningkat 2,68 juta ton gabah kering atau 22,54% dibandingkan periode sama tahun 2019. Penurunan hanya terjadi padasubround Januari-April 2020 yaitu sebesar 3,78 juta ton gabah kering giling atau 15,91% dibandingkansubround Januari-April 2019.

Bila dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi beras pada 2020 sebesar 31,33 juta ton atau naik 21,46 ribu ton atau 0,07% dibanding tahun 2019 yang hanya 31,31 juta ton.

Ia mengatakan pentingnya membaca data valid sebelum mengeluarkan kebijakan impor. Terlebih pangan strategis seperti beras adalah mata pencaharian jutaan petani yang terus berjuang meningkatkan produksi.

"Impor pangan strategis harus dipertimbangkan dengan berdasarkan data yang akurat. Data yang akurat itu harus segera dikumpulkan dari daerah sentra produksi padi," pungkasnya.

(ega/hns)