Sumsel Catat Inflasi Tahunan Januari 2021 1,37%, Ini Pemicunya

Abu Ubaidillah - detikFinance
Minggu, 07 Mar 2021 22:44 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya inflasi 0,55% di Juni 2019. Penyumbang inflasi terbesar adalah naiknya harga makanan di selama Lebaran.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumsel, Hari Widodo mengatakan indeks harga konsumen (IHK) di Sumsel menunjukkan perkembangan yang baik pada Januari 2021. IHK Sumsel mengalami inflasi sebesar 0,42%, lebih rendah dari inflasi pada Desember 2020 sebesar 0,57% serta historis inflasi Januari 3 tahun terakhir yakni 0,47%.

Secara tahunan, inflasi IHK pada Januari 2021 tercatat sebesar 1,37%, juga menurun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 1,55% (yoy). Di sisi lain, realisasi inflasi ini juga lebih rendah dibanding inflasi nasional dan inflasi regional Sumatera yang masing-masing sebesar 1,56% dan 1,88%.

"Perkembangan ini terutama dipengaruhi inflasi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau seiring kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, dan daging ayam ras. Dengan perkembangan tersebut, realisasi inflasi kumulatif Sumsel pada bulan laporan sebesar 0,42%. Secara tahunan, inflasi IHK pada Januari 2021 sebesar 1,37%. Itu lebih rendah dibanding inflasi nasional," kata Hari dalam keterangan tertulis, Minggu (7/3/2021).

Hari mengatakan melihat perkembangan terkini beberapa indikator harga dan data historis pada bulan Februari 2021, Sumsel diperkirakan akan kembali mengalami inflasi. Namun inflasi pada Februari 2021 ini diperkirakan cenderung lebih rendah dari bulan sebelumnya.

Ia menilai inflasi pada bulan Februari tersebut juga diperkirakan berasal dari potensi kenaikan bahan makanan, seperti daging sapi dan aneka cabai yang terus menunjukkan tren kenaikan karena meningkatnya permintaan menjelang hari besar keagamaan nasional (HBKN).

"Selain itu, kenaikan komoditas rokok dan besi beton juga mendorong laju inflasi. Namun tekanan inflasi tertahan oleh terjaganya pasokan komoditas bawang merah dan beras," terangnya.

Hari menjelaskan kegiatan pengendalian inflasi masih terus dilanjutkan dengan berpedoman pada strategi pengendalian 4K, yaitu pemantauan ketersediaan pasokan yang dilakukan lewat program penjajakan kerja sama sebagai tindak lanjut pembentukan BUMD pangan serta berkoordinasi dengan Provinsi Bengkulu untuk inisiasi kerja sama antardaerah (KAD).

Pemantauan keterjangkauan harga melalui monitoring harga komoditas pangan secara harian serta menyusun rencana sidak pasar, kemudian memastikan kelancaran distribusi yang dilakukan dengan memprioritaskan angkutan untuk komoditas bahan pangan dan bahan pokok penting. Selanjutnya komunikasi yang efektif melalui koordinasi secara berkala di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.

Inflasi Sumsel secara keseluruhan di tahun 2021 diprediksi masih terkendali. Tekanan inflasi masih tetap terjadi bersumber dari mulai pulihnya permintaan masyarakat dan penyediaan jasa makan minum seiring relaksasi aktivitas ekonomi dan telah ditemukannya vaksin COVID-19 di tengah ketersediaan pasokan yang terjaga seiring masuknya musim panen beberapa komoditas hortikultura.

"Ke depan TPID Sumsel bersama satgas pllakan terus memperkuat koordinasi kebijakan agar menjaga inflasi tetap stabil. Hal itu ditujukan untuk menjaga kecukupan pasokan bahan pangan strategis dan mengantisipasi risiko inflasi pangan dari adanya gangguan produksi, terutama potensi meningkatnya curah hujan karena fenomena la nina," pungkasnya.



Simak Video "Bencana Alam di Berbagai Daerah, Sri Mulyani Waspadai Inflasi"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/hns)