Kolom

Menata(p) Masa Depan Perikanan Budi Daya Indonesia

Sakti Wahyu Trenggono - detikFinance
Senin, 08 Mar 2021 07:56 WIB
Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono
Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono/Foto: KKP
Jakarta -

Pandemi COVID-19 yang telah berjalan setahun belakangan ini memberikan dampak multi dimensi bagi kehidupan masyarakat. Hal itu terlihat di sektor ekonomi, sosial dan tentunya kesehatan. Situasi ini membuat tatanan kehidupan masyarakat berubah.

Kondisi yang tidak biasa ini juga berdampak pada aktivitas perikanan budi daya di Indonesia. Hasil produksi menurun termasuk nilai yang dihasilkan. Pembatasan sosial hingga tidak beroperasinya rumah makan dan pusat kuliner menjadi penyebab produktivitas dan penyerapan hasil sejumlah komoditas perikanan budi daya tidak berjalan maksimal.

Berdasarkan rekapan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya dan Aplikasi Satu Data KKP, jumlah produksi perikanan budidaya tahun 2020 sebanyak 15,5 juta ton termasuk di dalamnya komoditas rumput laut. Angka ini mengalami penurunan sekitar 900 ribuan ton dari tahun sebelumnya. Begitupun dengan nilai ekonomi yang dihasilkan ikut menurun menjadi Rp 155,9 triliun.

Kondisi ini tentunya menjadi perhatian serius bagi saya sebagai nakhoda di Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Apalagi, saya telah menetapkan perikanan budi daya sebagai salah satu program terobosan hingga 2024 nanti agar menjadi mesin ekonomi baru sektor kelautan dan perikanan.

Produktivitas perikanan budi daya tentunya harus ditingkatkan untuk mencapai target besar ini. Untuk itu, saya akan menggerakkan perikanan budi daya yang didukung oleh hasil riset sebagai upaya menjaga keberlanjutan dan membangun kampung-kampung perikanan budidaya berbasis kearifan lokal.

Komoditas Unggulan

Berdasarkan review produktivitas ekspor perikanan di tahun-tahun sebelumnya, setidaknya ada tiga komoditas budi daya yang berpeluang ditingkatkan produktivitasnya di pasar global. Ketiganya adalah udang, rumput laut, dan lobster.

Nilai permintaan pasar dunia untuk tiga komoditas ini mencapai US$ 32,05 miliar atau 19,69% dari total nilai perdagangan pasar ikan dunia sebesar US$ 162,75 miliar pada tahun 2019.

Merujuk pada data, tahun lalu Indonesia menempati posisi negara produsen udang budi daya terbesar kelima di dunia dengan jumlah produksi hampir 1 juta ton. Dari jumlah tersebut, Indonesia berkontribusi sebesar 7,15% (239,22 ribu ton) dari total kebutuhan pasar udang dunia sebesar 3,342 juta ton. Dalam meningkatkan produksi udang nasional pada tahun 2024, Indonesia menargetkan produksi udang sebesar 2 juta ton pada tahun 2024.

Sedangkan untuk pemenuhan pasar lobster tropis dunia tahun 2020, Indonesia baru berkontribusi sebesar 2.022 ton (4,21%) dari total kebutuhan 51.042 ton. Indonesia menargetkan produksi lobster dari kegiatan budidaya dapat mencapai 22.655 ton pada tahun 2024 yang seluruhnya diorientasikan untuk ekspor. Saya yakin Indonesia berpotensi menguasai pasar lobster dunia, mengingat potensi Benih Bening Lobster (BBL) yang sangat melimpah.

Komoditas lainnya yang bisa menjadi andalan adalah rumput laut. Komoditas ini secara kuantitas produksi terus mengalami peningkatan secara signifikan. Pada tahun 2020, kontribusi Indonesia dalam perdagangan rumput laut dunia baru sebesar 195.574 ton atau 24,21% dari total kebutuhan dunia sebesar 807.676 ton. Dari sisi nilai, baru sebesar 9,57% dari nilai total perdagangan rumput laut dunia sebesar US$ 2,92 miliar.

Ini menunjukkan bahwa rumput laut Indonesia yang diperdagangkan di pasar dunia masih berupa rumput laut kering, belum banyak diolah dan diperdagangkan dalam bentuk produk turunan. Dengan semua potensi ini, di tahun 2024 Indonesia menargetkan produksi rumput laut basah sebesar 12,45 juta ton.

Selain itu, ada komoditas lain yang juga diminati dunia. Cek halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2