Banyak Orang RI Rela Jauh-jauh ke Malaysia-Singapura buat Cek Kesehatan

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 08 Apr 2021 14:27 WIB
ilustrasi kanker rumah sakit
Foto: iStock
Jakarta -

Malaysia dan Singapura ternyata menjadi tujuan utama bagi sejumlah orang Indonesia untuk memeriksakan kesehatannya alias melakukan medical check-up, dan juga menjalani perawatan kesehatan lainnya.

Berdasarkan data Bank Dunia pada tahun 2018, 60% dari turis yang datang ke Malaysia untuk perawatan kesehatan adalah orang Indonesia. Lalu, 45% dari turis yang datang ke Singapura untuk perawatan kesehatan adalah orang Indonesia.

"Data di tahun 2018 rilis dari World Bank itu ada 60% medical tourist yang datang ke Malaysia itu dari Indonesia yang tujuannya untuk periksa, check up, sebatas check up. Dan 45% medical tourist yang ke Singapura itu juga dari Indonesia," kata Asisten Deputi Bidang Investasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Bimo Wijayanto dalam Bali Economic and Investment Forum 2021, Kamis (8/4/2021).

Orang-orang tersebut sebagian besar datang dari 10 provinsi di Indonesia antara lain Jakarta, Medan, Bali, Riau, Kepulauan Riau, Balikpapan, Samarinda, Makassar, Palu, dan Palembang.

Oleh sebab itu, Kemenko Marves berinisiasi untuk menarik investor agar membangun rumah sakit (RS) kelas internasional di Bali. Dengan demikian, orang-orang Indonesia yang biasanya rela ke Malaysia dan Singapura untuk periksa kesehatan,tak perlu lagi menyeberang negeri.

"Ini harusnya menjadi captive yang bisa ditahan di Indonesia. Nah Bali ini merupakan 3 kota yang sangat potensial menjadi wellness and health tourism," urai Bimo.

Dengan rencana ini, harapannya tercipta diversifikasi ekonomi di Bali. Dengan demikian, Bali tak lagi hanya bergantung pada sektor pariwisata. Sebelumnya, Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan sudah ada beberapa investor yang berminat membangun rumah sakit kelas internasional di Bali. Harapannya, RS itu nantinya bisa menangani penyakit-penyakit spesifik yang butuh perawatan intensif.

"Pengembangan health tourism dengan membuka rumah sakit internasional untuk penanganan penyakit-penyakit spesifik seperti kanker, tumor, itu sudah ada beberapa investor yang berminat untuk ini," ucap Luhut.

(vdl/fdl)