Pengusaha Beras: Produksi Aman Bila Distribusi Bibit-Pupuk Lancar

Vadhia Lidyana - detikFinance
Jumat, 23 Apr 2021 16:50 WIB
Pemerintah berencana impor beras 1 juta ton. Dirut Perum Bulog Budi Waseso pun buka-bukaan soal kondisi ratusan ribu ton beras impor yang belum terpakai.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, pemerintah akan menutup keran impor beras sampai akhir tahun 2021 apabila produksi padi berjalan dengan baik. Menurut Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Sutarto Alimoeso, produksi pada juga tergantung pada distribusi bibit dan pupuk dari pemerintah kepada petani.

"Bagaimana gerakan-gerakan yang dilakukan pemerintah terkait penyediaan benih, pupuknya kan begitu. Kalau itu semua berjalan, saya optimistis (tak perlu impor beras)," kata Sutarto kepada detikcom, Kamis (22/4/2021).

Pasalnya, menurut Sutarto iklim tahun ini sangat mendukung produksi padi, seperti apa yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Selain itu, musim tanam padi juga maju alias lebih cepat dari tahun 2020. Oleh sebab itu, ia yakin tahun ini produksi surplus, dengan catatan pemerintah juga lancar mendistribusikan bibit dan pupuk.

"Kalau dihubungkan dengan prediksi BMKG, nampaknya musim kemarau tahun ini lebih basah, jadi tidak kering. Meskipun musim kemarau masuk Mei, tapi kemungkinan tidak terlalu kering, sebagian basah. Kalau dilihat data BMKG, kemudian dilihat dari kemarin tanamnya maju, seyogyanya tahun ini luas tanam lebih besar, kemudian diikuti oleh luas panen lebih besar dari tahun lalu, artinya produksi lebih tinggi, lebih bagus dari tahun lalu. Seyogyanya kita surplus," terang Sutarto.

Jika musim tanam terus berjalan sejak bulan Maret, maka ia optimistis di musim kemarau masih akan ada panen beras untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun.

"Kalau saya ditanya kemungkinan, situasi seperti ini biasanya luas panen akan lebih baik dari tahun lalu. Karena iklim mendukung, pola tanam bisa dipercepat, Februari kan juga ada yang sudah panen, jadi Maret sudah tanam. Panen Maret, tanam April, nanti Juni-Agustus bisa panen. Jadi terhindar dari kemungkinan kemarau yang puncaknya Juli-Agustus. Mudah-mudahan itu tercapai," urainya.

Di sisi lain, stok beras di pengusaha penggilingan yang tergabung dalam Perpadi juga masih aman, yakni 3,5 juta ton. Tak hanya itu, menurut Sutarto stok beras di pasar, ritel-ritel, dan juga di masyarakat masih cukup, ditambah lagi dengan sisa stok tahun lalu yang berlebih.

"Sampai dengan Mei dan Juni kita pasti masih surplus. Karena hari ini saja yang di penggilingan sudah 3,5 juta ton. Itu artinya cukup untuk 1 bulan lebih. Di lain pihak, pasti masyarakat punya simpanan beras. Kemudian di pasar tradisional, ritel-ritel itu juga pasti ada stok. Itu sebenarnya bisa dilihat dari surplus selama sekian bulan ini ditambah surplus tahun lalu yang mencapai 2 juta ton lebih," pungkasnya.

(vdl/zlf)