Panen Padi Jalan Terus, RI Tak Perlu Impor Beras?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Sabtu, 24 Apr 2021 08:00 WIB
Sejumlah petani memanen padi di Cikarang, Jawa Barat. Meski panen kali ini terbilang cukup, tapi para petani ini tetap menjerit. Kenapa?
Ilustrasi/Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Jakarta -

Panen padi masih terus berlangsung. Produksi beras di pengusaha penggilingan juga masih terus berjalan. Begitu juga dengan penyerapan beras oleh Perum Bulog.

Di pengusaha penggilingan, stok beras sudah mencapai 3,5 juta ton. Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Sutarto Alimoeso meyakini, dengan kondisi ini maka stok beras masih surplus sampai Juni 2021.

"Sampai dengan Mei dan Juni kita pasti masih surplus. Karena hari ini saja yang di penggilingan sudah 3,5 juta ton. Itu artinya cukup untuk 1 bulan lebih. Di lain pihak, pasti masyarakat punya simpanan beras. Kemudian di pasar tradisional, ritel-ritel itu juga pasti ada stok. Itu sebenarnya bisa dilihat dari surplus selama sekian bulan ini ditambah surplus tahun lalu yang mencapai 2 juta ton lebih," kata Sutarto kepada detikcom, Jumat (23/4/2021).

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri mengatakan adanya kemungkinan menutup keran impor beras sampai akhir 2021. Namun, produksi padi harus dijaga dalam kondisi bagus.

"Kemarin sudah kita putuskan bahwa sampai Juni tidak ada impor. Insyaallah nanti sampai akhir tahun, kalau kita tahan produksinya bagus, berarti juga tidak akan impor," ucapnya saat melakukan kunjungan ke Indramayu yang disiarkan akun YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (21/4/2021).

Menurut Sutarto, hal itu bergantung juga pada distribusi bibit dan pupuk dari pemerintah.

"Bagaimana gerakan-gerakan yang dilakukan pemerintah terkait penyediaan benih, pupuknya kan begitu. Kalau itu semua berjalan, saya optimistis (tak perlu impor beras)," kata Sutarto.

Namun, ia meyakini stok beras akan cukup hingga akhir tahun. Pasalnya, iklim tahun ini sangat mendukung produksi padi, seperti yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Selain itu, musim tanam padi juga maju alias lebih cepat dari tahun 2020, yakni sejak bulan Maret 2021. Jika musim tanam terus berjalan dari bulan Maret-April, maka ia optimistis di musim kemarau masih akan ada panen padi untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun.

"Kalau saya ditanya kemungkinan, situasi seperti ini biasanya luas panen akan lebih baik dari tahun lalu. Karena iklim mendukung, pola tanam bisa dipercepat, Februari kan juga ada yang sudah panen, jadi Maret sudah tanam. Panen Maret, tanam April, nanti Juni-Agustus bisa panen. Jadi terhindar dari kemungkinan kemarau yang puncaknya Juli-Agustus. Mudah-mudahan itu tercapai," urainya.

Berapa stok beras di Bulog? Cek halaman berikutnya.

Selain di penggilingan, stok beras di gudang Bulog juga melimpah. Per Kamis (22/4) kemarin, cadangan beras pemerintah (CBP) di gudang Bulog mencapai 1,2 juta ton. Dengan demikian, Bulog telah memenuhi tugas pemerintah di mana harus mengamankan

1-1,5 juta ton CBP setiap bulannya. Sekretaris Perusahaan Bulog Awaludin Iqbal mengatakan, pihaknya meyakini Indonesia tak perlu impor beras.

"Kalau di dalam angka kita, proyeksi dan estimasi kita, berapa pembelian dan penyaluran kita, stok di atas 1 juta itu insyaallah (syarat dari Presiden Jokowi) terjawab," kata Awaludin kepada detikcom.

Awaludin mengatakan, pihaknya juga masih terus melakukan penyerapan hasil produksi petani untuk menjaga ketersediaan CBP.

"Intinya kita akan menjaga stok dalam setiap bulan itu berada pada kisaran 1-1,5 juta ton," tandas dia.

(vdl/ara)