Kisah Perajin Batik Bertahan di Tengah Pandemi & Larangan Mudik

Robby Bernardi - detikFinance
Rabu, 28 Apr 2021 14:05 WIB
Perajin batik di Pekalongan
Foto: Robby Bernardi/detikcom: Perajin batik di Pekalongan
Pekalongan -

Pendemi Corona, yang sudah hampir memasuki dua Lebaran ini, membuat pasar off line batik, lesu. Bahkan, kios-kios batik hingga galeri batik terpaksa di tutup karena sepinya pengunjung. Pasar luar negeri pun, untuk saat ini terbatas, karena wabah virus Corona ini.

Lesunya kondisi pasar off line ini, diperparah dengan adanya larangan mudik. Kondisi ini memaksa perajin beramai-ramai mulai menerobos pasar online, dengan produk batik-batik yang inovatif bagi kaum milenial. Jika tidak, perajin hanya bisa mengenang kejayaannya.

Salah satu perajin batik di Kampung Batik Wiradesa, Pekalongan, yakni Tanji Pujiati, pengusaha Batik Kharisma. Pada detikcom Rabu (28/04), ia mengatakan mulai menyentuh kaum melinia. Ia berinovasi di tengah pendemi ini, berupa karya batiknya 'Benteng Negeri', sebagai ekspresi perajin batik saat ini.

"Ya kita harus kreatif. Seperti sarung ini. Biasanya, sarung batik kan dibatik motif semuanya. Namun, ini disisahkan dan di blok warna saja, diluar pakemnya. Namanya sarung Banteng Negeri," katanya.

Bukan tidak mempunyai arti atau makna, pemberian nama Benteng Negari itu.

"Banyaknya musibah akhir-akhir ini, terutama masuknya virus Corona, menjadi keprihatinan kami. Untuk itu, kita ekspresikan dengan benteng negeri ini, sebagai pertahanan dari segala macam mara bahaya yang datang dari luar maupun dalam," katanya.

"Harapannya ya agar kita mampu membentengi diri dari segala ancaman, termasuk virus Corona ini," tambahnya.

Diakuinya sejak adanya virus Corona, kondisi pasar off line sepi. Sebagai pengusaha ia ingin mendobrak pasar online dengan produk-produk batik milenial juga.

Terpisah, pengurus Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), Ahmad Failasuf, saat ditemui detikcom, menjelaskan, kondisi pendemi Corona seperti saat ini, bagi perajin dan pengusaha batik, dirasakan sangat berat. Bahkan, lebih berat bila dibandingkan saat krisis moneter di tahun 1998 silam.

"Saya sendiri, justru usaha saya ini dibangun saat krismon. Namun saat itu, kita kirim batik ke luar negeri, sehingga bisa bertahan dan justru berkembang. Saat ini, ekspor dibatasi bahkan jarang, karena wabah Corona," jelasnya.

Menurutnya, jika saat krismon, yang menjadi persoalan dari sektor ekonomi pada umumnya, namun di masa pendemi ini, sektor kesehatan yang berdampak juga pada sektor lainnya seperti ekonomi.

"Saat ini, pasar batik off line terpuruk. Buktinya, kios-kios, galeri batik milik saya dan teman lainnya banyak yang tutup. Tidak ada tamu atau pengunjung," katanya.

Bahkan para pekerja di batik Pesisir ini, yang sebelumnya membantu proses produksi batik, yang mencapai 300 orang, saat ini hanya mengisahkan 10 persenya.

"Penyebabnya, kami tidak bisa jualan offline. Toko-toko kami tutup, galeri batik kami tutup. Ya karena sepi, tidak ada tamu ataupun pengunjung. Kegiatan ekspor juga tidak bisa. Saat ini mengandalkan online," katanya.

Langsung klik halaman berikutnya.

Simak juga Video: Perajin Batik di Solo Kebanjiran Orderan Selama Ramadhan

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2

Tag Terpopuler