Ada Holding Pangan, Bisa Nggak RI Berhenti Impor Beras?

Soraya Novika - detikFinance
Kamis, 29 Apr 2021 17:31 WIB
Hamparan sawah menguning siap panen. dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Ilustrasi/Foto: Dikhy Sasra
Jakarta -

Beberapa hari lalu, Presiden Joko Widodo sempat menyinggung kembali soal isu impor beras. Ia menegaskan pemerintah sebenarnya tidak ingin melakukan impor beras. Swasembada tetap menjadi impian.

Lalu, sudah sejauh mana upaya pemerintah terkait cita-citanya tersebut?

Direktur Utama PT RNI Arief Prasetyo Adi menyampaikan persiapan-persiapan apa saja yang sudah dilakukan oleh para BUMN yang bakal tergabung dalam Holding BUMN Klaster Pangan terkait swasembadaya beras. Dari segi lahan sebagai media tanam padi, sebenarnya sudah lebih dari cukup.

"Sang Hyang Seri itu pemilik 3.200 Ha di daerah Sukamandi lahannya flat. Nggak perlu jauh-jauh ke Vietnam, nggak perlu ke China di sana 3.200 Ha," ujar Arief dalam Konferensi Pers, Kamis (29/4/2021).

Demikian pula dari segi benih, di wilayah yang sama juga sudah terdapat pabrik benih. Meski begitu, pabrik benih tersebut masih perlu dioptimalkan untuk produksi yang optimal pula.

"Kita akan optimalkan kembali (pabrik benih) menjadikan Sang Hyang Seri kembali menjadi produsen benih yang handal, yang berkualitas untuk men-support semua kegiatan dari Kementerian Pertanian dan mungkin ke depan Badan Ketahanan Pangan (BKP)," imbuhnya.

BUMN lain, yakni PT Pertani juga memiliki sarana dan prasarana penyerapan gabah yang cukup besar seperti adanya kapasitas dryer dan Rice Milling Unit (RMU) yang tersebar secara nasional.

"Pertani itu sebagai off taker masuk ke dryer tidak lebih dari 24 jam sehingga gabah yang tadi diproduksi bisa langsung dikeringkan," katanya.

Namun, Arief mengaku masih ada proses-proses lain yang harus ditingkatkan agar RI bisa memenuhi kebutuhan beras secara mandiri. Sekaligus menghasilkan beras-beras premium untuk diekspor.

"Kita semua sadar bahwa ujung-ujungnya adalah market. Kita akan custom kebutuhan dari masyarakat itu apa, sehingga kita bisa deliver dan mempunyai added value jadi kita tidak mempertimbangkan beras misalnya kualitasnya rendah. Tapi kita ingin meningkatkan kualitas beras yang ada juga produk-produk pertanian yang lain," tuturnya.

(eds/eds)