Masih Resesi, Ekonomi RI Minus 4 Kuartal Berturut-Turut

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 05 Mei 2021 18:00 WIB
Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih menghadapi ancaman pandemi COVID-19. OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 4,9% di tahun 2021.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Indonesia masih belum bisa keluar dari jurang resesi. Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan angka pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I 2021 yakni -0,74%.

Itu berarti, ekonomi Indonesia sudah mengalami minus selama 4 kuartal berturut-turut.

Pertama kali ekonomi Indonesia minus adalah pada kuartal II 2020 yang minus 5,32%. Kontraksi ekonomi kemudian berlanjut di kuartal III 2020. Saat itu ekonomi Indonesia minus 3,49%. Dengan begitu, Indonesia mulai dinyatakan resesi karena alami pertumbuhan ekonomi minus 2 kuartal berturut-turut.

Kemudian kuartal III 2020 ekonomi RI minus 3,49%. Lalu pada kuartal IV 2020 ekonomi RI masih minus 2,19%.

Laporan BPS terakhir pada kuartal I 2021 tercatat minus 0,74%.

"Ekonomi Indonesia kuartal I 2021 masih kontraksi 0,74%. Jadi secara year on year ekonomi Indonesia kuartal I 0,74% sementara secara kuarter to kuarter kontraksi 0,96%," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers, Rabu (5/5/2021).

Staf Khusus (Stafsus) Presiden Bidang Ekonomi Arif Budimanta menilai, meski masih kontraksi, pertumbuhan ekonomi RI masih dalam arah yang positif dari kuartal sebelumnya. Sebab pada kuartal II-2020 ekonomi RI -5,32%, lalu di kuartal III-2020 -3,49% dan kuartal IV-2020 -2,19% (yoy).

"Selanjutnya diproyeksikan pertumbuhan di kuartal II, III dan IV tahun ini bakal berada di zona positif. Alhasil, ekonomi Indonesia tahun 2021, secara akumulasi, akan tumbuh positif dibandingkan tahun 2020 lalu," tuturnya dalam keterangan tertulis.

Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky memprediksi pertumbuhan ekonomi kuartal I 2021 berada di kisaran -0,6% (rentang -0,8% sampai dengan -0,4%) dengan estimasi pertumbuhan untuk keseluruhan tahun 2021 berkisar 4,4% hingga 4,8%.

"Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi jangka panjang, dibutuhkan perbaikan aspek fundamental ekonomi," ujar dia.

Kemudian pemerintah sebelumnya memang sudah mengambil beberapa langkah strategis untuk mencapai tujuan tersebut di fase paska pemulihan krisis saat ini.

Menurut dia Indonesia masih akan menghadapi tantangan dalam proses vaksinasi dan penyebaran COVID-19 dalam jangka pendek. Lalu ada juga risiko 'taper tantrum' dan mandat untuk mengembalikan defisit APBN di tahun 2023 dalam jangka menengah sampai tantangan untuk melakukan reformasi struktural di jangka panjang.

Sebelumnya pemerintah memang memproyeksi ekonomi Indonesia masih berada di zona negatif. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan jika ekonomi kuartal I masih minus -0,5% sampai -0,3%. Kemudian Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memproyeksi ekonomi kuartal I 2021 masih di kisaran -1% sampai -0,1%.

(kil/zlf)