Industri Keuangan Syariah Tumbuh di Tengah Pandemi, Ini Strategi OJK

Inkana Putri - detikFinance
Rabu, 05 Mei 2021 20:28 WIB
OJK
Foto: OJK
Jakarta -

Ketua Dewan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Wimboh Santoso memaparkan peran industri keuangan syariah dalam mendukung pemulihan ekonomi nasional (PEN) dan memberdayakan UMKM. Di tengah pandemi, industri keuangan syariah masih tumbuh lebih baik dibanding nasional.

Berdasarkan data OJK, aset perbankan syariah pada 2020 tumbuh 13,11%, sedangkan perbankan nasional hanya 7,12% dan perbankan konvensional sebesar 6,73%. Sementara pertumbuhan kredit syariah tumbuh 8,08%, dan perbankan nasional dan konvensional justru mengalami penurunan.

"COVID-19 memberikan dampak yang besar terhadap ekonomi kita. Dalam masa pandemi COVID-19 ini, ternyata syariah tumbuhnya lebih bagus daripada nasional. Namun, kami memberikan sedikit warning karena penduduk kita kebanyakan tinggal di daerah. Dan mayoritas itu ekonomi kita didukung oleh UMKM sehingga masyarakat kita menginginkan adanya produk syariah yang memberikan value," ujar Wimboh dalam acara Sarasehan Industri Jasa Keuangan di Makassar yang digelar secara live melalui YouTube OJK, Sabtu (1/5/2021).

Terkait hal ini, Wimboh menyampaikan industri keuangan syariah harus menghadirkan produk syariah yang sesuai dengan keinginan masyarakat. Dengan demikian, market share syariah akan meningkat sehingga keuangan syariah akan lebih berdampak terhadap ekonomi nasional dan pemberdayaan UMKM.

"Jadi, bukan hanya memberikan syariah, tapi juga produknya ada value kepada kita semua. Market share akan tinggi kalau produk murah, akses gampang, dan pelayanan bagus dan lengkap," ungkapnya.

Oleh karena itu, pihaknya saat ini telah meluncurkan roadmap untuk pengembangan syariah ke depan dengan strategi memperkuat lembaga keuangan syariah dan peningkatan literasi keuangan syariah berbasis digital.

"Untuk memberikan produk murah, berkualitas dan akses gampang, ya lembaganya harus kuat. Tanpa lembaga yang kuat tidak bisa memberikan produk berbasis teknologi dan menjangkau akses ke seluruh Indonesia," katanya.

"Selain itu, kita juga mendorong bukan hanya dari perbankan. Dari pasar modal kita ciptakan produk berbasis syariah dan ini sudah kita lakukan," imbuhnya.

Di samping itu, Wimboh menyebut pihaknya juga menghadirkan platform sharing bagi bank syariah lainnya sehingga ke depan keuangan syariah dapat lebih menjangkau masyarakat luas.

"Kita juga memberikan platform bagaimana (agar) aksesnya bisa murah, gampang dan menjangkau seluruh masyarakat. Ini tentunya kita lakukan dengan skema yang murah, terutama kalau yang unbankable kita ciptakan Bank Wakaf Mikro, itu hanya 3% setahun. Dan ini kita juga bina dan didik," ungkapnya.

Melalui strategi ini, Wimboh berharap peran industri keuangan syariah dapat lebih meningkatkan ekonomi masyarakat hingga nasional. Ke depan, pihaknya juga akan melakukan edukasi dan literasi digital bagi masyarakat.

"Dengan cara ini, kita harapkan syariah akan menjadi pilihan bukan hanya karena syariah tapi juga memberikan value kepada masyarakat. Dengan begitu, market share akan tinggi dan tentunya orang akan mencari produk syariah. Ke depan tanpa ada edukasi dan literasi saya rasa nggak mungkin. Jadi, (kami) akan terus kita lakukan apalagi di era digital ini," jelasnya.

Upaya ini pun disambut baik oleh Wakil Ketua Komisi IX DPR, Amir Uskara, yang juga menginginkan penyaluran kredit dapat disesuaikan dengan jumlah penduduk muslim. Dalam hal ini, ia juga mendukung BSI dalam meningkatkan literasi digital masyarakat.

"Untuk penyaluran tentu kita harapkan bank syariah ini disesuaikan dengan jumlah penduduk muslim yang seharusnya. Kalau bisa terjadi keseimbangan antara penyaluran dan jumlah penduduk yang membutuhkan kredit terutama dari syariah," katanya.

"Literasi keuangan di Sulsel masih sangat minim karena di antara 1,2 juta UMKM itu adalah home industri yang aksesnya ke perbankan terbatas. Saya kira ini yang harus dimanfaatkan BSI sehingga lebih dapat menjangkau lebih dalam lagi," tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Plt. Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman menyampaikan pihaknya juga akan mendukung perkembangan industri keuangan syariah, khususnya di Sulawesi Selatan.

"Konsep syariah sebenarnya ini, kalau kita lihat market share-nya masih rendah sebenarnya sangat menyedihkan di mana kita negara terbesar muslim. Padahal ini kan profit oriented dan bagaimana (meningkatkan) market target, kemudian produk itu memberikan slot kepada konsumen yang kecenderungannya meminta akses ini (produk syariah). Dan ini lah yang sedang kami dorong," katanya.

Ia pun menyarankan agar keuangan syariah sebaiknya dibentuk berdasarkan kebijakan syariah sepenuhnya. Sehingga masyarakat akan lebih terdorong untuk menggunakan produk syariah.

"Kalau kita mau menegakkan sistem syariah, maka segala kebijakan harus kita berani menarik dari kebijakan-kebijakan syariah, dan kemudian kita harus melihat fungsi-fungsi itu," pungkasnya.

Di sisi lain, Wakil Direktur Utama 1 PT. Bank Syariah Indonesia Tbk. Ngatari menyampaikan kontribusi BSI dalam program PEN. Ia menjelaskan selama pandemi pihaknya telah menyalurkan pembiayaan ke sektor UMK atau non UMKM dengan leverage yang telah ditentukan.

"Kami BSI diwajibkan untuk memberikan pembiayaan 2 kali pada periode 1 dan periode kedua 1,5 kali dari penempatan dana. Karena BSI gabungan 3 bank, masing-masing kita mendapatkan Rp 1 triliun dan saya sampaikan BSI bahwa dari suku bunga saat ini kami telah melempar KPR dengan bunga yang terendah dari seluruh perbankan, yakni 3,3%. Jadi, ini kita mulai menghilangkan bahwa bank syariah mahal," jelasnya.

Tak hanya itu, Ngatari juga menyebut pihaknya juga akan mendukung perekonomian syariah di Sulawesi Selatan, termasuk dalam hal pengajuan kredit.

"Perbankan syariah di Sulawesi Selatan kurang lebih memiliki share sekitar 1,5 persen terhadap total perbankan syariah nasional. semoga share ini terus meningkat. BSI siap memberi dukungan terhadap sulsel, jaringan kami saat ini jumlahnya lebih dari 1,300 dengan produk dan bergaram dan teknologi digital yg sudah dimulai, termasuk pengajuan kredit," katanya.

Sementara itu, Kepala OJK Regional 6 Sulawesi Selatan, Mohamad Nurdin Subandi menyebut kinerja perbankan syariah di Sulsel relatif stabil. Pihaknya juga siap mendukung program pemulihan PEN.

"Di tengah kontraksi pemulihan ekonomi, kinerja perbankan syariah di Sulawesi Selatan relatif stabil dan terjaga, serta siap mendukung pemulihan ekonomi nasional di Sulawesi Selatan. Melalui pertemuan ini, diharapkan kita semua dapat menggali potensi dan peran sektor jasa keuangan syariah dalam mendukung pemulihan ekonomi Sulawesi Selatan," paparnya.

(mul/hns)

Tag Terpopuler