AS Darurat Serangan Siber, Banyak Perusahaan Jadi Korban

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 04 Jun 2021 14:43 WIB
Lakukan Berbagai Serangan Siber, AS Ajukan 6 Perwira Intelijen Rusia ke Pengadilan
Foto: DW (News)
Jakarta -

Perusahaan penyedia pipa gas utama, lusinan instansi pemerintah, perusahaan pemasok air kota Florida, hingga perusahaan produsen daging asal AS menjadi korban serangan siber. Dalam beberapa bulan terakhir terjadi peningkatan tajam dalam serangan siber di Amerika Serikat (AS).

Melansir dari CNN, Jumat (4/6/2021), serangan-serangan siber ini sering kali menargetkan perusahaan dan instansi pemerintahan yang merupakan kunci dalam kehidupan masyarakat AS sehari-hari. Banyak dari serangan tersebut menggunakan ransomware, seperangkat alat yang memungkinkan peretas mendapatkan akses ke sistem komputer dan mengganggu atau menguncinya hingga mereka dapat bayaran.

Sebenarnya, serangan dengan menggunakan ransomware bukanlah hal yang baru. Namun akhir-akhir ini berkembang dari peretas yang menargetkan infrastruktur penting dan operasi bisnis fisik, yang membuat serangan lebih menguntungkan bagi pelaku. Dengan munculnya bekerja jarak jauh selama pandemi, banyak perusahaan yang semakin rentan terkena serangan siber semacam itu.

Departemen Kehakiman AS pada bulan April lalu telah membentuk satuan tugas khusus guna menangani permasalahan serangan siber ransomware ini. Departemen Kehakiman AS telah menyatakan bahwa tahun 2020 sebagai 'tahun terburuk' untuk serangan siber terkait pemerasan.

Tidak berhenti di 2020, masalah serangan ini tampaknya semakin memburuk tahun ini. Menurut laporan dari perusahaan keamanan siber Check Point Software, pada paruh pertama tahun 2021 terdapat peningkatan sebesar 102% dalam serangan ransomware dibandingkan dengan awal tahun lalu.

Data tersebut bahkan belum termasuk peristiwa yang baru saja terjadi akhir-akhir ini. Seperti yang baru saja terjadi pada Rabu (2/6/2021) kemarin di mana perusahaan operator kapal feri di Martha's Vineyard, Cape Cod dan Nantucket mengatakan bahwa mereka terkena serangan ransomware.

Saat ini pemerintah AS sedang meningkatkan upaya untuk mengatasi ancaman ransomware, meskipun para ahli memperingatkan bahwa tanpa adanya kerja sama dan investasi yang signifikan dari sektor swasta, serangan ini kemungkinan akan tetap ada.

Serangan-serangan siber ini berpotensi dapat memicu kekacauan dalam kehidupan masyarakat, yang menyebabkan kekurangan produk, harga yang lebih tinggi, dan banyak lagi. Semakin besar gangguan yang diakibatkan oleh serangan siber tersebut, semakin besar pula kemungkinan perusahaan akan membayar 'uang tebusan' kepada pelaku serangan.

"Jika Anda seorang pelaku ransomware, tujuan Anda adalah menimbulkan sebanyak mungkin rasa sakit (gangguan terhadap perusahaan/instansi tertentu) untuk memaksa perusahaan-perusahaan ini membayar Anda," kata Katell Thielemann, wakil presiden analis untuk keamanan dan manajemen risiko Gartner sebagaimana dikutip dari CNN.

"Ini di luar keamanan siber saja, sekarang ini adalah peristiwa siber-fisik di mana proses dunia fisik yang sebenarnya dihentikan (oleh serangan siber tersebut). Ketika Anda dapat menargetkan perusahaan di lingkungan itu, jelas di situlah rasa sakit paling terasa karena di situlah mereka menghasilkan uang," jelasnya.



Simak Video "Sistem Transportasi di New York Dihack, Negara-negara Ini Dicurigai"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)