Produksi Budi Daya Perikanan RI Masih Keok dari China, Ini Penyebabnya

Anisa Indraini - detikFinance
Minggu, 11 Jul 2021 12:48 WIB
Budi daya udang Panama belum banyak digeluti kalangan petambak. Meski berpotensi peroleh untung tinggi, budi daya udang ini juga punya risiko gagal cukup tinggi
Foto: Imam Suripto/Detikcom
Jakarta -

Digitalisasi kini sudah merambah sektor perikanan. Nelayan dan para pelaku bisnis perikanan yang melek teknologi terbukti bisa meningkatkan produktivitas.

Pengamat Perikanan Universitas Padjajaran, Yudi Nurul mengatakan, kebijakan digitalisasi sektor perikanan perlu diperkuat dengan pendampingan kepada pelaku usaha, yakni petani budi daya ikan dan nelayan. Pemerintah harus menyokong penuh rencana digitalisasi di sektor perikanan sebab potensi di sektor tersebut sangatlah vital.

"Solusi digitalisasi perikanan menjadi penting saat ini karena sebenarnya kita dapat memanfaatkan instrumen teknologi 4.0 dan penguatan multiplatform stakeholder diperlukan untuk memastikan bahwa mekanisme pengelolaan perikanan berbasis Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) dapat mengakomodasi kepentingan semua pihak baik vertikal maupun horizontal," kata Yudi.

Potensi budi daya perikanan di Indonesia sangat besar, namun sayangnya masih kalah dibanding negara lain, seperti China. CEO eFishery, Gibran Huzaifah mengatakan, faktor yang menjadi penyebabnya adalah karena persoalan teknologi.

"Karena mereka lebih unggul dalam penguasaan teknologi, khususnya intensifikasi produktivitas budidaya," ujar Gibran.

Merujuk data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada Desember 2020, saat ini perikanan budi daya baru berkontribusi 16% dari total produksi perikanan yang mencapai 100 juta ton per tahun

Gibran yakin, pihaknya bisa menggenjot produktivitas tersebut dengan teknologi. Dia mengatakan, pembudi daya menggunakan teknologi berbasis internet off things ciptaan eFishery. Alat tersebut bisa memberikan pakan ikan dan udang secara otomatis dan terjadwal.

Dia mengklaim alat itu bisa membantu pembudi daya menghemat penggunaan pakan hingga 30% dan meningkatkan kapasitas produksi hingga 26%. Siklus budidaya pun diketahui dapat menjadi lebih singkat sehingga petani mampu panen lebih cepat dan pendapatannya meningkat.

Data-data yang terekam dari teknologi eFisheryFeeder kemudian menciptakan ruang bagieFishery untuk menghasilkan inovasi lainnya berupa credit scoring dan skema pembiayaan yang kemudian dikenal dengan nama eFishery Fund, layanan yang menghubungkan para pembudi daya secara langsung dengan institusi keuangan. Hingga Mei 2021, eFishery Fund telah menyalurkan lebih dari Rp 70 miliar pembiayaan kepada lebih dari 1.700 pembudi daya ikan di Indonesia.

"eFishery ingin para pembudi daya dan stakeholder lainnya di bidang akuakultur tumbuh berdampingan bersama kami," kata Gibran.

(aid/zlf)